Home / Kolom_Husna / Anak di Usia Emas

Anak di Usia Emas

Husna

Berikan mereka kasih sayangmu,
tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah untuk raganya, tapi tidak untuk jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi sekalipun dalam impian.
(Sang Anak, Kahlil Gibran)

 

bidik.co — Anak usia dini merupakan investasi negara yang amat berharga, namun juga bisa tak berharga. Karena pada masa ini merupakan masa emas (golden age) dan bisa juga masa krisis. Oleh sebab itu Pendidikan Anak Usia Dini haruslah menjadi perhatian bersama supaya investasi yang berharga ini tidak akan sia-sia. Pada tahap usia dini inilah perkembangan anak menjadi penentu pada tahap-tahap perkembangan selanjutnya, masa inilah masa keemasan yang anak dapat belajar dengan bimbingan orang-orang di sekitarnya.

Tahun-tahun pertama kehidupan anak merupakan kurun waktu yang sangat penting dan kritis dalam hal tumbuh kembang fisik, mental, dan psikososial, yang berjalan sedemikian cepatnya, sehingga keberhasilan tahun-tahun pertama untuk sebagian besar menentukan hari depan anak. Kelainan atau penyimpangan apapun apabila tidak diintervensi secara dini dengan baik pada saatnya, dan tidak terdeteksi secara nyata mendapatkan perawatan yang bersifat purna yaitu; promotif, preventif, dan rehabilitatif, akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya.

Pentingnya PAUD

Pendidikan anak usia dini semula dianggap remeh oleh sebagian orang tua. Padahal pendidikan anak usia dini sebenarnya memegang peranan penting untuk masa depan anak kelak. Pada masa usia dini, otak anak-anak berkembang sangat pesat hingga mencapai 80 persen. Pada rentang usia tersebut otak anak akan menerima dan menyerap berbagai macam informasi dari lingkungan sekitarnya, tanpa mengetahui baik dan buruk.

Pada rentang waktu usia dini itulah terjadi perkembangan mental, fisik maupun spiritual pada anak secara cepat dan signifikan. Anak akan mulai mempelajari segala hal dan karakternya sudah mulai terbentuk. Oleh sebab itu, banyak orang yang menyebut masa perkembangan anak saat usia dini sebagai masa emas anak (golden age).

Mengapa pendidikan anak usia dini menjadi penting? Para ahli mengakui, saat lahir otak bayi sudah memiliki sekitar 100 miliar sel otak (neuron). Jumlah ini mencapai 75 persen dari jumlah sel-sel otak manusia dewasa. Perkembangan otak menjadi sempurna melalui pengalaman dari hari ke hari yang dialami oleh anak.

Bahkan sebuah penelitian telah dilakukan di Amerika oleh Brazelton yang merupakan seorang ahli perilaku dan perkembangan anak, mengatakan, pengalaman yang terjadi pada anak di bulan dan tahun pertama dalam kehidupannya akan sangat berpengaruh dan akan menunjukan apakah sang anak akan mampu menghadapi rintangan dan tantangan dalam kehidupannya kelak dan apakah ia mempunyai semangat tinggi untuk berhasil dalam kehidupannya.

Artinya, seorang anak ketika dilahirkan telah dibekali berbagai potensi genetis. Potensi itu akan berkembang oleh lingkungan yang baik. Dengan demikian, lingkunganlah yang berperan besar dalam pembentukan sikap, kepribadian, dan pengembangan kemampuan anak.

Berbagai penelitian membuktikan, usia dini (0-6 tahun) merupakan periode atau masa keemasan (the golden age) yang sangat menentukan tahap perkembangan anak selanjutnya. Kecerdasan anak mencapai 50 persen pada usia 0-4 tahun, sebanyak 80 persen pada usia delapan tahun, dan mencapai 100 persen pada usia 18 tahun.

Ini berarti masa emas seorang anak berada pada usia dini, sebelum berusia 7 tahun. Pada masa emas, kecepatan pertumbuhan otak anak sangat tinggi, mencapai 50 persen dari keseluruhan perkembangan otak anak selama hidupnya. Di masa ini, seorang anak mampu menyerap ide dan pengetahuan jauh lebih kuat daripada orang dewasa.

Untuk Masa Depan

Masa depan seorang anak tidak terlepas dari pertumbuhan dan perkembangannya sejak lahir, dimana pertumbuhan dan perkembangan anak akan optimal jika mendapat rangsangan atau stimulus, baik dari dalam maupun luar diri anak.

Banyak teori-teori yang mengemukakan tentang pertumbuhan dan perkembangan anak karena hal ini berpengaruh terhadap anak dan masa depannya. Seperti teori Perkembangan kognitif yang dikemukakan oleh Piaget, teori Psikoanalisis oleh Sigmund Freud, teori perkembangan Psikososial oleh Erikson, teori perkembangan Moral oleh Kohlberg, teori perkembangan Emosi oleh Hurolock dan teori Kematangan oleh Arnold Gesell.

Anak akan memperkaya pengalaman sesuai dengan tahapan perkembangannya. Seorang guru haruslah mengetahui dan memahami urutan perkembangan anak sehingga dapat memberikan rangsangan atau stimulus dan pengalaman-pengalaman yang sesuai bagi tahap perkembangannya.

Seperti yang telah disebutkan di atas, pendidikan pada masa uisa emas (golden age) ini diibaratkan bagai meletakkan batu pertama untuk pondasi sebuah bangunan. Jika batu pondasi bangunan itu bagus dan berkualitas, pastilah bangunan yang dibangun tersebut akan berdiri kokoh. Hal sebaliknya akan terjadi jika batu pondasi yang dipakai adalah batu yang mudah retak dan hancur. Apakah kita pikir bangunan itu akan bisa bertahan lama?

Tentu saja sama nasibnya dengan batu, bangunan akan segera ikut hancur juga. Bayangkan hal ini terjadi pada generasi penerus bangsa kita. Jika pada masa keemasannya anak-anak mendapat pendidikan yang bagus dan diberikan sesuai dengan tahap perkembangan serta dalam memberikan pengalaman-pengalaman konkrit itu pendidik menggaris-bawahi bahwa setiap individu itu unik, maka bisa dipastikan akan terlahir generasi-generasi yang gemilang.

Kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kelak akan berbeda dengan kondisi saat ini. Hubungan antarbangsa diwarnai dengan hubungan yang semakin kompetitif, karena semua bangsa berpacu untuk mencapai kemajuan dalam berbagai bidang. Untuk menghadapi persaingan global yang semakin ketat, maka generasi mendatang haruslah memiliki kecerdasan, keterampilan, produktifitas kerja yang tinggi, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, ahli dan profesional minimal di bidang kerjanya masing-masing.

Untuk membentuk generasi yang demikian itu, maka calon-calon generasi mendatang itu harus dipersiapkan pertumbuhan dan perkembangannya sedini mungkin, sehingga mereka mempunyai pondasi yang kuat untuk memasuki pendidikan yang lebih tinggi.

Di Tangan Orang Tua

Pendidikan anak usia dini yang orang tua berikan bagi anak, merupakan persiapan kematangan anak dalam menghadapi perkembangannya di masa yang akan datang. Saat ini telah banyak sekolah taman kanak-kanak memberikan pendidikan yang baik dan berkualitas demi mengembangkan kemampuan dan bakat dalam diri anak tersebut. Namun demikian, tetap dituntut usaha maksimal dari orangtua dalam mengajar dan mendidik anak.

Dalam mendidik anak, orangtua biasanya berkaca pada apa yang dialaminya dahulu ketika masih kanak-kanak. Tetapi bisa jadi, apa yang dialaminya dahulu tidak efektif lagi untuk diterapkan saat ini. Dahulu, hukuman fisik dan memarahi anak dianggap bisa menjadikan anak patuh pada orangtua. Namun sekarang, menghukum anak dan memarahinya tidak lagi menjadi cara yang efektif, karena bisa membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang pemberontak dan pemarah.

Pendidikan bagi anak usia dini adalah upaya menstimulasi, membimbing, mengasuh dan pemberian kegiatan pembelajaran yang akan menghasilkan kemampuan dan ketrampilan anak. Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan, daya cipta, kecerdasan emosi, dan kecerdasan spititual.

Sesuai dengan keunikan dan pertumbuhan anak usia dini, maka penyelenggaraan pendidikan bagi anak usia dini disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan yang di lalui oleh anak usia dini.

Dari gambaran di atas, orang tua perlu mempergunakan masa-masa emas anak untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak. Sehingga nantinya sang anak bisa meraih cita-cita dan kesuksesan dalam kehidupannya di masa depan.

Begitu pentingnya peran orang tua dalam pendidikan anak usia dini, maka kerjasama orang tua dan tenaga pendidik (guru) ketika anak tengah berada di lingkungan sekolah mereka sangat diperlukan. Kerjasama sangat diperlukan guna mendapatkan hasil terbaik dalam mendidik anak usia dini. Terdapat beberapa langkah yang dapat ditempuh oleh orang tua dalam menerapkan pendidikan terhadap anak usia dini.

Dalam mendidik anak usia dini, pertama kali orang tua harus mengenal dan memahami karakter bawaan sang anak, apakah sang anak cenderung aktif, pendiam, atau pemalu. Mengenali karakter sang anak sangat diperlukan agar orang tua ataupun guru dapat mengambil langkah yang tepat dalam memberikan pendidikan yang sesuai kepada sang anak.

Selain itu, mengenali karakter bawaan sang anak juga membuat orang tua lebih berhati-hati dalam memberikan treatment kepada anak, sehingga baik orang tua maupun tenaga pendidik di mana anak bersekolah akan mendapatkan respon dari sang anak sesuai dengan yang diinginkan.

Pendidikan anak usia dini pada hakikatnya tidak terhenti pada saat anak memasuki usia pra sekolah saja, melainkan harus diterapkan semenjak anak masih belajar berjalan. Memberikan pendidikan yang baik sejak kecil akan sangat membantu orang tua dalam menjalankan tugasnya sebagai pembentuk generasi masa depan yang berkualitas dan berkarakter. Hal ini tentu tidaklah mudah bagi orang tua mengingat di luar sana akan selalu banyak godaan dan gangguan yang mampu menggoyahkan kepribadian sang anak kelak di kemudian hari.

Meskipun demikian, apabila orang tua telah menanamkan landasan agama yang kuat di dalam diri sang anak, maka orang tua tak perlu khawatir karena mereka akan mendapati anak-anak mereka tidak akan goyah terhadap pengaruh buruk dari dunia luar yang dapat merusak diri mereka sendiri.

Tugas orang tua adalah selalu mengawasi mereka dan menjaga mereka agar tidak terjerumus terhadap hal-hal yang salah yang tentu tidak hanya merugikan mereka, namun juga akan merugikan orang tua. Maka, mendidik anak sejak dini dengan menanamkan karakter yang religius dan bertanggung jawab sangat penting untuk dilakukan oleh orang tua serta guru sebagai orang tua pengganti di sekolah. (*)

Husna, Dosen Universitas Nasional (UNAS) Jakarta

Komentar

Komentar

Check Also

Opini 2

Opini 2 Opini 2 Opini 2 Opini 2 Opini 2 Opini 2 Opini 2 Opini 2 Opini 2 Opini 2 Opini 2Opini 2Opini 2Opini 2Opini …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *