Home / Gaya Hidup / Batu Akik Redam Jumlah Perceraian di Purbalingga

Batu Akik Redam Jumlah Perceraian di Purbalingga

bidik.co — Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengaku tengah melakukan riset mencari penyebab tingginya gugat cerai di Kabupaten Purbalingga, Banyumas dan Cilacap. Dugaan sementara, fenomena ini disebabkan tulang punggung keluarga telah beralih dari suami ke pihak istri.

“Sejak menjadi menteri pemberdayaan perempuan, saya sudah tertarik untuk mengkaji ini. Kenapa di kabupaten-kabupaten ini termasuk Purbalingga, angka perceraiannya tinggi. Dan menariknya, inisiatif itu mayoritas datang dari pihak istri,” kata Mensos Khofifah saat mengunjungi Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, Minggu (22/3/2015).

Dari Catatan Kantor Kementerian Agama Purbalingga, angka perceraian dengan inisiatif dari pihak istri di Purbalingga hampir menyentuh 20 persen dari jumlah pernikahan. Sedangkan jumlah pernikahan di Purbalingga berada di kisaran 10 sampai 11 ribu per tahun.

“Saya juga sedang menulis buku tentang pengarusutamaan gender dikaitkan dengan upaya mempertahankan keharmonisan keluarga,” ujarnya.

Dalam buku itu, Khofifah menegaskan seharusnya dengan tingginya penerapan pengarusutamaan gender tidak sampai menyebabkan disharmoni keluarga yang berbuntut perceraian. Karena dalam setiap disharmoni (pertengkaran dan perceraian), yang paling merasakan dampak buruk tentu saja anak-anak yang tidak bersalah.

“Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis, selalu melihat kedua orang tuanya bertengkar, akan mengalami trauma berkepanjangan. Baik disadari atau tidak disadarinya,” ungkapnya.

Bupati Purbalingga Sukento Rido Marhaendrianto mengatakan pihaknya sudah berupaya mencari jalan keluar menyelesaikan permasalahan tersebut. Hingga akhirnya, dalam dua hingga tiga bulan terakhir pihaknya mengaku tren batu akik dapat menurunkan angka gugat cerai di Purbalingga.

“Sejak ada tren batu akik, angka gugat cerai menurun. Yang semula angka perceraian mencapai 2.300, sekarang turun menjadi 1.800. Rupanya sang suami sekarang sudah bekerja, menjadi perajin batu akik,” jelasnya.

Menurut dia, sekali mengasah satu batu akik, perajin menerima Rp 25 ribu. Jika sehari terdapat 4 pelanggan, perajin sudah dapat menerima Rp 100 ribu per hari. “Sebulan menjadi 3 juta, lebih dari KHL di Purbalingga. Karena sudah dianggap bertanggung jawab kepada keluarga, istri nggak jadi menggugat cerai,” jelasnya.

Seperti diketahui, demam batu akik melanda Nusantara, dua tahun belakangan ini. Kabupaten Purbalingga pun terkena imbasnya. Terlebih lagi dengan kekayaan batu jesper yang terkandung di sepanjang aliran Sungai Klawing.

Hal itu pun berdampak pada peningkatan ekonomi kerakyatan di Purbalingga. Perajin batu bermunculan. Bahkan di satu desa bisa muncul lebih dari tiga perajin akik. Di Kelurahan Bancar, Kecamatan Purbalingga misalnya, berderet perajin akik di tepi jalan. Hal itu belum termasuk di gang-gang.

Sebagai potensi untuk meningkatkan ekonomi warganya, Bupati Purbalingga Sukento Rido Marhaendrianto pun membuat kebijakan mengembangkan kerajinan akik. Para aparatur sipil negara (ASN) diwajibkan untuk menggunakan batu akik buatan perajin Purbalingga.

“Saya mewajibkan PNS bukan hanya menjadi pemakai batu akik klawing tetapi juga bisa menjadi pemasar. PNS di Purbalingga hampir mencapai 10.000 orang. Kalau separuhnya dapat memasarkan kepada teman-temannya di luar daerah maka produksi ekonomi kerakyatan akan tumbuh. Dan, sekarang sudah mulai dirasakan masyarakat,” jelasnya.

Dia merinci, upah memoles satu buah batu akik berkisar antara Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu. Seorang perajin, dalam sehari dapat memoles sedikitnya empat buah batu akik. ”Kalau sehari penghasilan mereka Rp 100 ribu. Sebulan bisa mencapai Rp 3 juta. Hal itu sudah di atas UMR. Jadi tujuan saya adalah semata-mata untuk kepentingan masyarakat. Hal itu yang utama,” katanya.

Berbeda dari Bupati Banyumas yang mewajibkan ASN memakai batu akik hanya pada Kamis, Sukento mewajibkannya setiap hari. Efeknya, bisa dilihat di beberapa lokasi. Banyak ASN mulai dari perangkat desa, kecamatan, dan SKPD sering menyambangi perajin akik.

“Saya ada 20 koleksi cincin akik. Sebagian besar batu Purbalingga, dari luar beberapa. Tapi semuanya dibuat perajin Purbalingga. Satu jenis batu ada sepasang, untuk saya dan istri. Paling tidak, setiap hari memakai dua cincin, satu di jari kanan satu di jari kiri. Bergantian sesuai suasana hati,” kata Hardiyanto, staf Bagian Humas Setda Purbalingga.

Hal senada Kepala Bagian Keuangan Sekretariat DPRD Purbalingga Udji Winanto. Selain memiliki koleksi, dia juga menjual kepada koleganya, terutama mereka yang berada di luar kota. “Saya hanya ingin membantu memasarkan buatan perajin,” katanya.

Meski masa kepemimpinannya tinggal menghitung bulan, namun kebijakan menggerakkan ekonomi rakyat melalui batu akik itu tidak main-main. Tahun ini, Pemkab menggelontorkan Rp 900 juta untuk membantu peralatan bagi kelompok perajin batu akik.

Sebelumnya, Paguyuban Batu Klawing Purbalingga dikukuhkan pada 8 November di Pendapa Dipokusumo.

Kebijakan Bupati Purbalingga dalam mengembangkan kerajinan batu akik klawing itu sempat mendapat tanggapan negatif dari sejumlah pihak. Ada kekhawatiran akan terjadinya kerusakan lingkungan akibat eksploitasi secara besar-besaran. “Dibanding eksploitasi pasir dan batu untuk bahan bangunan, saya kira nilai kerugiannya lebih banyak (sirtu-Red) dari pada eksploitasi bahan akik,” katanya.

”Saya sedang menyiapkan regulasi yang akan mengatur pendayagunaan batu klawing. Nanti, kami susun peraturan bupati (perbup-Red),” jelasnya.

Dalam waktu dekat ini, pihaknya akan studi banding ke Aceh untuk belajar mengenai regulasi tersebut agar potensi batu di Sungai Klawing bisa terjaga. Selain itu, harga batu mulia Sungai Klawing juga bisa lebih tinggi, seperti di Aceh. Pihaknya juga meminta bantuan ke pemerintah pusat untuk mengkaji seluruh potensi batu tersebut.

“Saya ingin di Purbalingga ada sentra kerajinan batu klawing, seperti Pattaya,Thailand atau Martapura, Kalimantan,” katanya.

Sebelumnya, Bupati juga membuat program peningkatan ekonomi kerakyatan dengan gerakan cinta produk lokal. Saat menerima tamu atau rapat, makanan yang tersaji adalah produk lokal. Selain itu, setiap Minggu pagi di Stadion Goentoer Darjono digelar gebyar produk UMKM. (*)

 

Komentar

Komentar

Check Also

Orang Tua Pengaruhi Peningkatan Intelektual Anak

bidik.co — Kesibukan orang tua yang bekerja setiap hari menjadi alasan untuk tidak memperhatikan kebutuhan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *