Home / Inspirasi / Berkembang Pengendara Go-Jek di Jakarta

Berkembang Pengendara Go-Jek di Jakarta

 

bidik.co — Salah satu perusahaan jasa transportasi, PT Go-Jek Indonesia atau Go-Jek, memiliki sistem perekrutan karyawan dengan cara yang sama seperti perusahaan lainnya, yakni dengan proses lamaran kerja. Dari lamaran tersebut, calon karyawan Go-Jek akan menjalani beberapa tahapan hingga akhirnya bisa bekerja sebagai driver atau pengendara Go-Jek secara resmi.

“Kita lamar kayak biasa. Nanti ada interview juga, ditanyain dulu kerjanya apa, pendapatannya berapa,” kata salah satu driver Go-Jek, Muhammad Nizar (47), Selasa (28/4/2015).

Saat interview tersebut, calon karyawan akan ditanya seputar pekerjaan sebelumnya, dan diminta untuk menjelaskan apa saja yang dia lakukan dari pekerjaan terdahulunya itu.

Mereka yang diterima sebagai karyawan nantinya berstatus freelance, dengan pendapatan yang diukur berdasarkan berapa banyaknya pekerjaan yang diambil.

Status freelance itu berlaku bagi seluruh driver Go-Jek yang sudah diterima kerja. Beberapa tahapan masih harus dilalui sebelum para driver bisa bekerja.

Adapun tahapan awal adalah pengenalan alat kerja berupa handphone Android dan aplikasi Go-Jek sendiri.

“Kita diajarikan gimana pakai aplikasi, gimana lihat orang pesan, jadi kita tahu kapan saja dan di mana orangnya harus kita jemput,” tutur Nizar.

Tahapan berikutnya adalah tata cara berkomunikasi dengan pelanggan atau orang yang memesan jasa Go-Jek.

Setelah dua tahap itu berhasil dilewati, ada tahap selanjutnya yang tidak kalah penting, yakni keterampilan untuk mapping atau mengenal daerah.

Wilayah kerja driver Go-Jek adalah seluruh Jabodetabek. Dengan begitu, masing-masing driver dari tahapan mapping ini harus belajar mengenal jalan dan mengetahui jalan-jalan pintas di seluruh Jabodetabek sebelum bekerja.

Setelah lulus semua tahap tersebut, maka driver siap bekerja. Tanda bahwa seorang driver sudah bisa bekerja adalah dengan mendapatkan satu jaket Go-Jek, dua helm Go-Jek, dan satu ponsel Android.

Sedangkan sepeda motor yang digunakan merupakan milik pribadi driver tersebut. Tidak ada biaya yang akan dipungut oleh Go-Jek selama proses lamaran hingga menjadi driver. Jaket, dua helm, dan ponsel Android diberikan gratis.

Nizar mengatakan, semua barang tersebut adalah atribut kerja yang harus dijaga dengan baik selama bekerja. Karena berstatus sebagai freelance, maka tidak ada yang mengatur jam dan hari kerja para driver.

Namun driver bisa mendapatkan pendapatan lebih jika rajin mengerjakan setiap orderan atau pesanan dari pelanggan Go-Jek. Nizar menambahkan, tidak ada standar pendidikan khusus bagi orang yang mau melamar sebagai driver Go-Jek.

Hanya saja, saat interview, kepribadian dan riwayat hidup calon karyawan atau calon driver sangat diperhatikan. Jika ada hal yang mencurigakan, maka bisa jadi salah satu pertimbangan apakah orang tersebut dapat menjadi driver atau tidak.

Go-Jek beroperasi dengan sistem yang kurang lebih sama dengan yang dilakukan oleh tukang ojek pada umumnya. Namun ada beberapa perbedaan antara karyawan Go-Jek dengan tukang ojek yang bekerja untuk diri sendiri.

“Kalau di kami itu statusnya freelance, jadi gaji kami berdasarkan komisi dari kerjaan sehari-hari,” tutur Nizar.

Nizar menjelaskan, semua karyawan di Go-Jek memang berstatus freelance. Hal itu membuat mereka bisa bekerja kapan saja.

Pendapatan para karyawan Go-Jek pun juga akhirnya ditentukan dari seberapa sering dia melayani pelanggan atau orang yang melakukan pemesanan.

Dengan pekerjaannya di Go-Jek dari hari Senin sampai Minggu, pendapatan Nizar rata-rata per bulannya bisa mencapai angka Rp 4 juta. Jam kerjanya pun bervariasi.

Nizar memilih untuk memulai kerja dari pukul 05.30 WIB sampai 22.00 WIB. Namun jika ada kondisi-kondisi tertentu yang membuat dia tidak bisa masuk kerja, maka dia bisa meliburkan diri.

“Gaji kita terdiri dari dua. Dari komisi sama deposit. Kalau deposit itu dari Go-Jek Credit, bisa bayar pakai pulsa buat ngojek, beli barang, sama kirim barang,” ucap Nizar.

Go-Jek Credit adalah salah satu fitur yang ada di aplikasi Go-Jek, baik yang terdapat di platform Android maupun iOS.

Pelanggan bisa melakukan top-up dengan pulsa untuk transaksi. Dari deposit itu, bagian pendapatan untuk karyawan hanya bisa diambil jika datang langsung ke kantor Go-Jek.

Sedangkan bagi pelanggan yang melakukan transaksi secara tunai, ada pembagian tersendiri untuk karyawan dan untuk perusahaan Go-Jek.

Pembagian tersebut adalah sebanyak 80 dan 20 persen, di mana 20 persen untuk perusahaan, lalu 80 persen untuk karyawan itu sendiri.

Pemesanan Go-Jek sendiri dilakukan melalui aplikasi di smartphone secara online. Sistem pelayanan driver Go-Jek sendiri adalah jemput bola, sehingga pelanggan hanya perlu menerima konfirmasi dari call center Go-Jek dan menunggu pelayanan jasa yang diminta.

Pelayanan di Go-Jek bisa untuk transportasi orang, kirim barang seperti dokumen, dan belanja berbagai macam barang. (*)

Komentar

Komentar

Check Also

 Apa Yang Telah Kuberikan Padamu, Anakku?

bidik.co — Siapa yang tak kenal Anita Roddick? Nama besar The Bodyshop yang berkibar megah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *