Home / Kesehatan / Dr. Tan Shot Yen: Obat Bukan Jawaban

Dr. Tan Shot Yen: Obat Bukan Jawaban

bidik.co — Ungkapan, “Manusia itu diperbudak lidahnya”, semakin nyata adanya! Kenyataan itu diperkuat paparan dr. Tan Shot Yen bertajuk “Saya Pilih Sehat dan Sembuh” di C3 Building, Puri Indah beberapa waktu lalu.

Dr. Tan adalah seorang praktisi Energy Healing, dan mempunyai sertifikat Clinical Hypnotherapist. Dr. Tan meraih S1 nya di Kedokteran Umum, kemudian melanjutkan S2 dan S3 di Fakultas Filsafat Driyarkara.

Gelar M. Hum dari Dr. Tan didapat setelah ia mengambil pascasarjana filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Menurutnya, kuliah S2 filsafat membuatnya memahami manusia secara mendalam dan holistic. Ia juga jadi mengerti ‘dosa ilmu kedokteran’ tentang mekanisasi tubuh manusia.

“Akibat perkembangan ilmu kedokteran — terutama setelah ditemukannya alat pacu dan cangkok jantung, tubuh manusia yang tadinya holistic lalu dipecah-pecah. Kalau kepala sakit yang diobati, ya kepala saja. Kita terlepas dari tubuh, emosi dan kecerdasan spiritual. Tubuh manusia hanya jadi seperangkat mesin. Kalau ada yang salah, kita pergi ke bengkel.

Dan, rumah sakitlah bengkel terbesarnya. Betul, badan manusia terlalu kompleks untuk dipegang satu ahli saja. Manusia boleh dipegang beberapa ahli, asal mereka sama-sama sadar bahwa manusia diciptakan Tuhan. Masalahnya, dokter punya arogansi profesi. Seorang dokter biasanya susah dibilangin dan selalu merasa benar,” tuturnya lugas.

Dr. Tan juga menyayangkan bila manusia zaman sekarang mati-matian melawan dan menolak sakit. Padahal, sakit adalah jalan untuk lebih memahami bahwa manusia tak selamanya pada posisi di atas.

Dr. Tan mengatakan, “Sakit adalah introspeksi. Ketika sakit, saya berhenti dan menoleh ke belakang. Apa yang ‘jalan’ dan ‘nggak jalan’ selama ini? Nah, menjadi sembuh adalah keberhasilan introspeksi dan menemukan cara untuk lebih maju lagi. Tapi bagaimana pasien bisa introspeksi bila tak dibimbing menemukan kesembuhannya dan hanya dininabobokan oleh obat? Dunia yang mati rasa dan tak mau mengalami sakit adalah dunia yang melarikan diri, mengingkari diri sendiri.”

Menurut Dr. Tan, kita memasuki era kebablasan mengonsumsi obat. Akhirnya, obat dijadikan demand. Setelah demand melambung tinggi, masyarakat digenjot untuk mendapatkan penghasilan lebih yang tak perlu demi obat. Lihatlah berapa banyak orang yang harus berusaha mati-matian demi keperluan berobat salah satu anggota keluarga.

Selalu Ingin Jadi Dokter
Dr. Tan lahir di Beijing, 17 September 1964 dan dibesarkan di Jakarta. Ia kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara dan lulus Profesi Kedokteran Negara FKUI pada tahun 1991. Sebagai siswi yang selalu mendapat nilai cemerlang dalam ilmu eksakta, menjadi dokter merupakan impiannya sejak dulu. Baginya, di bidang kedokteran, cara pikirnya yang eksakta bisa menemukan ‘kemanusiaannya’. Dalam diri pasien, ia menemukan benang merah antara fisik, emosi dan spiritual.

Ketika baru menjadi dokter, saya juga ngaco. Sekadar memberi obat pada pasien. Lama-lama saya pikir saya cuma perpanjangan pabrik obat,” kenangnya. Lalu ia pelan-pelan lebih menggunakan gaya hidup sehat. Perubahan ini dipicu oleh ayahnya, dr. Tan Tjiauw Liat, tokoh inspiratif yang membuatnya maju untuk melihat apa sebenarnya kebutuhan manusia.

Melihat begitu berapi-apinya Dr. Tan saat memberikan pencerahan gaya hidup pada pasien, siapapun mungkin akan bertanya ‘apa tidak capek?’. “Lebih capek mana dibandingkan dokter yang ditunggangi perusahaan obat dan makanan? Saya mendapat energi bila melihat pasien sembuh. Mereka memegang kendali atas hidup mereka, tidak dibohongin dokter, dan tidak tergantung obat,” jawabnya.

Dr. Tan mengakui, sepak terjangnya kerap dipandang sebelah mata oleh koleganya. “Ada yang bilang saya idealis, bahkan mission impossible. Tapi saya yakin, dalam hati kecil mereka mengatakan bahwa perubahan gaya hiduplah jawabannya.

Masalahnya, mereka sendiri tidak menjalani gaya hidup itu. Ini membuat saya sebal. Kalau mereka merasa tidak bisa menjalani gaya hidup sehat, jangan mengecilkan pasien dengan menganggap pasien juga takkan bisa. Pasien yang sudah parah dikasih obat apapun pasti mau. Apalagi cuma disuruh ganti nasi dengan sayur.”

Mendidik pasien
Dr. Tan mendidik pasiennya agar mengubah gaya hidup, tak tergantung pada obat dan tidak dibohongi dokter. Prinsipnya, pasien harus punya otonomi terhadap tubuh sendiri.

Cobalah berkunjung ke klinik Dr. Tan di wilayah Bumi Serpong Damai pada pukul 11 dihari kerja. Anda akan melihat Dr. Tan menghadapi beberapa pasien. Sekilas, Anda mungkin berpikir dokter sedang marah-marah. Padahal ia sedang menjelaskan tentang gaya hidup sehat pada pasien barunya. Pasalnya, memang begitu gaya Dr. Tan, menjelaskan dengan suara keras. Bila kita simak ucapannya, semua yang dijelaskannya sangat penting dan membukakan mata.

“Kesalahan pasien dalam berobat hanyalah mencari tahu ‘bagaimana’. Bagaimana caranya menurunkan tensi, menurunkan kadar gula, menguruskan badan, menghilangkan senewen atau sakit di jemari. Jika Anda cuma tanya ‘bagaimana’, Anda akan jatuh menjadi sekadar konsumen. Pertanyaan terpenting adalah mengapa Anda sampai sakit?” urainya.

Wanita 50 tahun ini memang tak mau punya pasien yang mengharapkan pil atau tongkat ajaib untuk membereskan tubuhnya. “Saya mau pasien yang taking ownership of their own body. Itu badan anda. Buat apa dokter yang sok tahu menyuruh ini-itu? Yang benar buat dokter belum tentu benar buat Anda.” Tentu saja, dokter yang satu ini tampaknya memang lain dari yang lain.

Kepada pasien, dalam prakteknya Dr. Tan lebih banyak memberikan pengetahuan tentang pola hidup yang sehat, pengetahuan tentang makanan, serta pengungkapan kembali hal-hal prinsip dalam menjaga keutuhan hidup. Mengajar kita berpikir kritis: tidak hanya sekadar “membereskan” gejala penyakit, tapi yang penting adalah mengetahui asal muasal penyakit dan mencegahnya.

Dr. Tan banyak mengusahakan agar manusia kembali mengupayakan kesembuhan melalui dirinya sendiri, bukan semata-mata menjadi obyek pengobatan, bahkan korban masyarakat industri.

Mengapa diperbudak? Karena manusia itu hidup untuk makan. Sayangnya makannya itu hanya karena menuruti kemauan sang lidah. Tidak menuruti apa yang dibutuhkan oleh tubuh. Jadi rasa enak, manis, gurih, lezat yang dirasakan di lidah (mulut) yang menjadi acuan orang saat ini dalam memenuhi lambung (perut) nya.

Mereka mengabaikan bagaimana makanan itu sampai dalam lambung. Apakah makanan itu bersifat mubazir (karena tak ada gizinya), bahkan meracuni (toksik). Ya itu tadi mereka hanya memanjakan lidahnya semata. Dr. Tan menyatakan 88% penyakit itu karena ulah manusia itu sendiri, sementara hanya 12% bersifat keturunan (buta warna, thalasemia, hemofilia).

Penyakit-penyakit dari ulah manusia itu sendiri sebagian besar karena disebabkan oleh apa yang masuk ke dalam lambungnya. Pada prinsipnya, karena manusia itu makhluk hidup, maka harus diberi masukan dengan unsur alamiah (yang masih hidup/segar). Contohnya adalah buah dan sayuran segar.

Dr. Tan menyatakan bahwa semua masakan olahan itu relatif tidak bermanfaat bagi tubuh (mubazir, dan hanya terbuang lewat feses dan air seni), karena proses olahan itu telah menghancurkan nilai gizi dari bahan makanan tersebut. Terlebih bila sudah olahan dalam skala industri, seperti yang menggunakan bahan tambahan (pengawet, pemanis, dll).

Ditegaskannya, karena manusia itu tidak punya tembolok, maka seharusnya manusia itu menghindari makanan dari biji-bijian (terutama beras – – > nasi). Beliau juga menyarankan untuk membuang gula, terigu, pati/terigu dari menu harian. Semua ini adalah sumber karbohidrat yang buruk. Artinya setelah 2 jam makanan tersebut akan menyebabkan peningkatan kadar gula dalam darah secara drastis.

Peningkatan ini memang akhirnya akan memicu organ tubuh dalam (pankreas) untuk mengeluarkan hormon insulin untuk menahan laju gula darah. Memang tubuh bisa “dipaksa” terus seperti itu keadaannya, namun lama-kelamaan pankreas jadi kecapean, bekerja tidak optimal, buntutnya masalah kesehatan pun muncul, seperti diabetes, dll.

Padahal dalam bahan makanan segar sebenarnya ada enzim untuk membantu organ pencernaan manusia mencerna, jadi hormon seperti insulin itu bisa “dihemat”. Dengan demikian pankreas tidak bekerja keras (atau lembur), dan hormon yang dihemat bisa untuk kebutuhan perbaikan jaringan tubuh lainnya.

Yang patut kita catat! Tidak hanya sumber protein dan vitamin, buah dan sayur segar juga merupakan sumber karbohidrat, karbohidrat yang baik. Yaitu Karbohidrat yang tidak menaikkan gula darah secara cepat (karena faktor skrining yang dilakukan oleh serat makanan dalam buah dan sayur).

Menyayangkan industri pangan
Dr. Tan juga menyayangkan industri pangan yang saat ini gencar mempromosikan makanan tidak sehat. Salah satunya adalah produk olahan susu. Seperti telah kita ketahui bersama, sejak usia 2 tahun, enzim pencernaan untuk mencerna susu berangsur hilang.

Itulah mengapa tidak sedikit orang yang minum susu, lambungnya jadi bermasalah. Itu karena memang enzim pencernanya sudah tidak ada! Lain cerita jika plain yoghurt misalnya. Di sini masih ada kandungan enzim yang akan memecahnya dalam plain yoghurt ini.

Minyak goreng yang proses pembuatannya diekstraksi dengan panas, tentu juga telah mengubah komponen kimiawi di dalamnya. Lain cerita dengan ekstraksi dengan tekanan (di-pres) olive oil dimana penggunaannya pun tidak menggunakan panas, sehingga tidak merusak kandungan gizi di dalamnya.

Selain sayur dan buah segar lalu harus mengonsumsi apa lagi? Apakah kita lalu menjadi vegetarian? Tidak juga. Dr. Tan banyak menyebutkan ada banyak teknik mengolah makanan yang tidak banyak merusak kandungan gizinya.

Intinya, sayur dan buah segar harus menjadi andalan menu sehari-hari kita jika ingin mengembalikan kondisi tubuh kita pada posisi alami yang semestinya (sebagaimana) dianugerahkan oleh Tuhan. Kebiasaan berjemur di matahari pagi juga harus diadakan kembali. Sarapan paling lambat 1 jam setelah bangun tidur. Dan berhenti dengan susu.

Dalam kondisi jika makanan yang kita konsumsi sehari-hari itu sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh tubuh. Misal tubuh perlu asupan vitamin, maka kita konsumsi buah segar, dsb, maka usia hidup orang Indonesia sebenarnya bisa mencapai 135 tahun! Tapi kenyataannya, harapan hidup orang Indonesia sangat jarang yang bisa menembus usia 80-90 tahun.

Hal itu karena makan setiap hari menuruti kemauan lidah kita. Asal enak, asal kenyang/nendang. Tidak mikir kalau dalam tubuh/perut, organ kita ‘kelimpungan’ mencerna semua makanan itu. Ternyata lidah kita selain setajam pedang (karena kata-kata yang dihasilkannya), juga bisa menentukan kondisi kesehatan dan usia harapan hidup kita.

Manusia bukan mobil
Dr. Tan mengkritik paradigma pengobatan medis modern yang tidak melihat manusia secara holistik, serta terlalu bersandar pada obat-obatan sebagai senjata utama meredakan gejala penyakit (belum tentu penyakitnya sembuh).

Ilmu kesehatan saat ini tidak luput dari cara pandang ilmu pasti. Segala sesuatu dipilah menjadi detail sekecil-kecilnya. Tubuh manusia pun dipandang sebagai pretelan suku cadang kendaraan yang terpisah dari alam pikir dan realita spiritualnya.

Pelayanan kesehatan (klinik, rumah sakit) saat ini lebih sebatas pada penanganan masalah gawat darurat.

Tubuh manusia memiliki kemampuan memperbaiki/menyembukan dirinya. Berbeda dengan mobil yang kudu didempul dan dicat ulang akibat dibaret, kulit manusia yang tergores bisa sembuh sendiri, tentunya dengan kondisi badan yang sehat.

Mendorong gaya hidup sehat
Perbedaan mencolok Dr. Tan dibanding dokter lain pada umumnya adalah ia tidak mudah memberi obat. Rata-rata pasien yang keluar dari ruang prakteknya tidak menggenggam resep. Kalaupun ada resep, biasanya hanya vitamin dan omega-3, tergantung kondisi pasien.

“Sampai kapan seseorang mau tergantung pada obat-obatan? Apakah setelah mengonsumsi obat dia benar-benar sembuh? Jawabannya tidak. Karena begitu obat berhenti, dia sakit lagi. Berapa banyak dokter hanya bertanya ‘sakit apa’ lalu berkata ‘ini obatnya’? Dia tidak memberikan pendidikan atau menjelaskanasal usul penyakit. Pasien juga bego, padahal dia harusnya memahami perannya dalam menciptakan penyakitnya,” jelas Dr. Tan.

Sebagai ganti resep, Dr. Tan memberikan pencerahan tentang gaya hidup sehat yang harus dijalani setiap orang. “Saya yakin semua dokter tahu bahwa diabetes, stroke, dan kanker adalah penyakit gaya hidup. Tapi pertanyaannya, seberapa jauh seorang dokter mau fight untuk memperbaiki gaya hidup pasiennya? Karena, penanganan pertama pasien seharusnya perubahan gaya hidup. Bila gagal, baru obat-obatan boleh dicoba.”

Dr. Tan mencontohkan, pasien yang sakit lutut akan disuruh minum obat, dioperasi, atau diganti tempurung lututnya. Padahal, titik beratnya adalah bobot tubuhnya. Jika si Pasien mengubah pola makan dan gaya hidup, berat badannya susut dan keluhan lututnya akan hilang. “Ibaratnya, mobil Mercedes pasti turun mesin kalau diisi bensin bajaj. Coba ganti dengan bensin super, pasti larinya kencang.”

Dr. Tan dalam usianya 50 tahun memiliki kulit yang sehat cerah dan tanpa keriput, karena beliau menerapkan raw food. Ajaran raw food diturunkan oleh ayahnya dr. Tan Tjiauw Liat.

Dr. Tan selalu mendidik pasiennya untuk memahami kesehatan, sehingga sering terjadi titik balik bagi setiap pasien yang datang untuk memahami kesehatan dan pola hidup yang benar.

Sehingga biasanya, setelah ditangani Dr. Tan pasien menjadi sangat sehat, fit, lincah, dan indikator-indikator test laboratoriumnya sangat baik.

Pola makan asal yang meniadakan gula, trigu, nasi, pati dan susu yang dijalani Dr. Tan juga dilakukan oleh suami — Henry Remanleh — dan anak tunggalnya, Cilla. Menurut Dr. Tan, mereka tidak menjalaninya karena terpaksa, tapi karena merasakan manfaatnya.

“Putri saya 17 tahun, kadang terpengaruh pola makan temannya. Dia lalu mengeluh susah konsentrasi atau pencernaannya terganggu. Setelah itu dia back on track. Dia sudah meengonsumsi raw food sejak SMP atas pilihan sendiri. Anak itu mencontoh orang tuanya. Jangan harap anak makan dengan baik kalau Anda sendiri amburadul.”

Suaminya, Henry, adalah kinesiologis yang berkutat dengan masalah gerak dan pengaruhnya terhadap aspek kehidupan manusia. Henry juga instruktur brain gym. Ia berpraktek di tempat yang sama. Dr. Tan sangat menghargai pekerjaan suaminya karena memberdayakan masyarakat. “Brain gym terbukti bisa meningkatkan konsentrasi. Dengan pola makan sehat sejak kecil dan gerakan olahraga terstruktur, Anda tak perlu lagi minum obat,” katanyaa tegas.

Selain sibuk berpraktik dan menjadi pembicara talkshow, Dr. Tan menjadi kontributor untuk taboid dan majalah kesehatan. Selain itu, ia mengisi waktunya dengan membaca dan membuka jalur continuing medical education melalui internet. Karena itu, info dan data jurnal ilmiahnya selalu up to date — disamping buku-buku terbaru pemberian ayahnya.

Ia menjalani pilates, terkadang berenang, dan sesekali bermain piano. Kini ia sedang mengumpulkan kisah-kisah kamar praktek untuk dijadikan tulisan inspiratif agar para dokter memandang pasien lebih dari sekumpulan diagnosis.

Perubahan pola makanan
Perubahan pola makan yang dianjurkan Dr. Tan mungkin terdengar ekstrem. Ia menghimbau pasiennya untuk berhenti mengonsumsi gula, terigu, nasi, dan pati (singkong, kentang, ubi, jagung, taloas). Pasalnya, di dalam tubuh, jenis makanan ini akan diproses 100% menjadi gula dalam waktu dua jam.

Benar, manusia butuh gula untuk energi. Tapi kenaikan kadar gula darah akibat empat jenis makanan ini sangat cepat, mengakibatkan insulin melonjak untuk menekan kenaikannya. Bersama insulin, keluar pula hormon eicosanoid buruk. Akibatnya, pembuluh darah menyempit, darah kental, daya tahan buruk, tubuh ‘memelihara’ bakteri, jamur, kista, tumor, dan kanker, serta timbul nyeri.

Sebagai ganti nasi, ia meresepkan: satu ikat selada mentah atau dua cangkir brokoli setengah matang, 2 putih telur rebus, 2 tomat, 2 mentimun, setengah avokad, apel, atau pear. Dengan makanan ini, tak ada sisa gula yang tersimpan menjadi lemak.

Kadar gula darah sebelum dan sesudah makan pun rata-rata sama. Dan, hormon eicosanoid buruk takkan keluar sehingga tak mengundang penyakit. ‘Menu’ ini perlu dilengkapi lauk-pauk yang diolah dengan berbagai cara, asal tidak ditumis atau digoreng.

“Kita makan sayur bukan hanya demi seratnya. Sayur mentah mengandung enzim dengan life force energy yang penting buat tubuh. Inilah pola makan asal yang sesuai fitrah manusia. Siapa bilang tidak makan nasi jadi lemas? Nenek moyang kita makan sayur dan buah, tapi mereka kuat mendaki gunung dan berburu.” (Agus Ismanto)

Komentar

Komentar

Check Also

Jamal Mirdad: Keberagaman Perlu Jadi Landasan Pembangunan

bidik.co — Indonesia terdiri dari beragam suku bangsa sehingga memiliki berbagai macam karakter individu, dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *