Home / Kolom_Hakam Naja / Hilangnya Palestina dari Peta Dunia

Hilangnya Palestina dari Peta Dunia

Oleh Teuku M. Ridha Al-Auwal

PENYERANGAN dan pembantaian yang dilakukan oleh Zionis Israel terhadap Muslim di jalur Gaza, Palestina, terus berlanjut. Israel telah menjajah serta merebut tanah Palestina secara terang-terangan, bahkan membunuh dengan kejamnya ribuan warga sipil Palestina yang di dalamnya termasuk anak-anak dan wanita. Ratusan korban tak berdosa telah berjatuhan, kemudian kecaman demi kecaman atas kekejaman zionis terhadap rakyat Palestina pun terus mengalir dari berbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia.

Demonstrasi, penggalangan dana serta aksi boikot terhadap produk-produk Yahudi pun terus dilakukan di berbagai negara demi mendukung Palestina dan mengutuk kebrutalan zionis Israel. Tak peduli latar belakang pendidikan, agama, ras dan suku, semuanya berkumpul menyuarakan satu dukungan terhadap Palestina atas dasar kemanusiaan.

Di saat semua orang dari berbagai belahan dunia melakukan aksi simpatik dan dukungan untuk Palestina, bukan berarti dukungan untuk Israel tidak ada. Tidak sedikit bahkan yang menganggap Israel tidak bersalah. Dukungan itu salah satunya datang dari pemerintah Amerika Sdeerikat. Israel dianggap cuma mempertahankan diri dan negaranya dari serangan kelompok teroris Hamas yang ingin mengacaukan kedaulatan negara Israel.

Presiden AS, Barack Obama melalui Sekretaris Gedung Putih (White House) Josh Earnest, dalam konferensi persnya beberapa hari yang lalu mengatakan bahwa Amerika mengecam serangan roket militan Hamas ke Israel. Oleh sebab itu, Israel mempunyai hak untuk mempertahankan diri mereka dan membalas serangannya.

Earnest secara eksplisit menyebutkan bahwa tidak ada satu negara pun yang bisa menerima dan mentolerir aksi penembakan roket yang dilakukan oleh kelompok teroris yang dapat membahayakan warga sipil dan stabilitas negaranya. Jadi, itulah sebabnya Amerika mendukung sepenuhnya tindakan Israel dalam mempertahankan tanah dan negaranya dan melawan aksi-aksi terorisme dari kelompok Hamas.

Siapa teroris?
Sungguh ironis ketika pernyataan seperti ini dikeluarkan secara resmi oleh negara dan pimpinannya yang selama ini berkoar-koar menjunjung tinggi yang namanya hak asasi manusia (HAM), dan yang selalu gencar memproklamirkan menolak aksi terorisme dalam bentuk apa pun. Pertanyaan sekarang adalah siapa sebenarnya teroris dalam kacamata pemerintah Amerika Serikat dan sekutunya? Yang jelas bukanlah Israel!

Bagaimana bisa Israel disebut mempertahankan kedaualatan negaranya jikalau tanah dan tempat yang mereka duduki sekarang adalah milik Palestina. Mengapa ketika Hamas bertindak untuk mempertahankan tanah mereka sendiri dianggap sebagai aksi terorisme dan ketika Israel menyerang dan membombardir wilayah pemukiman penduduk Palestina dianggap sebagai aksi mempertahakan diri.

Padahal Syeikh Ahmad Yasin, seorang tokoh pendiri Hamas dalam sebuah wawancaranya secara gamblang mengatakan: “Kami melawan karena tanah kami dicuri. Kami tidak membenci Yahudi. Kami tidak berperang dengan mereka karena mereka Yahudi. Mereka orang yang beragama dan kami juga orang yang beragama. Kami mencintai semua orang yang beragama. Tapi kami melawan Yahudi semata-mata karena mereka telah merampas hak kami.”

Inikah yang mereka sebut sebagai aksi terorisme? Ironis memang, tapi begitulah keadilan yang selalu ‘ditentukan’ oleh mereka yang kuat dan memiliki kekuasaan.

Isu, opini dan pendapat tentang tuntutan penghapusan Israel dari peta dunia sudah sering kita dengar, tapi apakah itu akan mungkin terjadi? Mengingat Israel merupakan kolega terdekat negeri adidaya (super power) Amerika Serikat. Negeri yang bisa dengan mudahnya menentukan mana kelompok ‘keadilan’ dan mana kelompok ‘teroris’ sesuai dengan kepentingan mereka sendiri. Pernahkah kita melihat peta dunia sekarang? Masih bisakah kita melihat Palestina dalam peta dunia? Atau memang ternyata Palestina sudah tidak ada lagi dalam peta dunia?

Palestina sudah hampir tidak bisa kita kenali lagi dalam lukisan peta dunia jika tidak ingin dikatakan telah sepenuhnya hilang dari peta dunia. Ini bukanlah kejadian baru. Ketika saya sedang short course di University of South Carolina di Amerika Serikat pada 2010. Saya melihat beberapa peta dunia yang dipajang di kampus dan tidak lagi bisa ditemukan tanah dan bendera Palestina, melainkan hanya tulisan serta bendera Israel yang ada. Jadi, siapakah yang sebenarnya sedang dan akan terus terhapus dari peta dunia, Israel ataukah Palestina?

Perang urat saraf dan ideologi ini pun terus dihembuskan oleh zionis dan pihak-pihak yang menginginkan Palestina hilang seutuhnya dari petadunia. Sehingga tidaklah asing jikalau anak cucu kita ke depan tidak akan lagi mengenal tanah dan negara Palestina, melainkan hanya negara Israel saja. Dan tidaklah aneh jika dua atau tiga generasi ke depan akan menganggap bahwa sebenarnya warga Palestinalah yang merebut tanah milik Israel. Nauzubillah summa nauzubillah.

Kasus yang terjadi di Palestina bukan lagi persoalan agama tapi sudah masuk ke dalam ranah kemanusiaan. Sehingga benar apa yang dikatakan oleh banyak pihak hari ini bahwa kita tidak harus menjadi seorang muslim untuk membela rakyat Palestina tapi cukup menjadi seorang manusia saja. Tapi seakan lembaga sekaliber PBB pun kehilangan taringnya untuk menyelesaikan masalah ini. Sebegitu dahsyatnya pelanggaran HAM yang terjadi di Gaza tapi pemimpin-pemimpin dunia memilih untuk menutup mata dan diam termasuk para pemimpin Islam yang berada di Timur Tengah khususunya dan di seluruh dunia umumnya.

Penjahat perang
Noam Chomsky, seorang linguist dan aktivis politik mengatakan bahwa Israel menggunakan peralatan perang yang super canggih untuk menyerang kamp pengungsi, sekolah, apartemen, masjid dan tempat-tempat padat penduduk lainnya yang notabenenya tidak memiliki alat untuk mempertahankan diri apalagi memiliki senjata yang canggih untuk melawan. Ini bukanlah perang, tapi ini pembantaian! Dan zionis Israel adalah penjahat perang abad ini!

Kemudian Presiden Amerika ke-39, Jimmy Carter, dalam bukunya yang berjudul Palestine Peace not Apartheid mengatakan bahwa penjajahan dan penganiayaan yang dilakukan oleh Israel terhadap warga Palestina adalah satu contoh pelanggaran HAM terburuk dan terparah dewasa ini. Apa yang telah diperbuat terhadap rakyat Palestinabenar-benar sangat menegrikan.

Itu semua diakibatkan oleh hasrat segelintir rakyat Israel yang ingin memperoleh dan mendapatkan tanah milik rakyat Palestina. Akan tetapi, Carter menambahkan bahwa orang-orang di Amerika tidak pernah tau tentang ini, mereka bahkan tidak ingin mengetahuinya, tidak ingin mendiskusikannya, serta tidak ingin mengkritisi tindakan Israel terhadap rakyat Palestina.

Menghapuskan sebuah negara dari peta dunia sangatlah mudah kalau kita cuma melihat dari atas ‘kertas’ peta karena di sana kita tidak bisa melihat manusia dan darah yang akan ditumpahkan. Sudah saatnya para pemimpin dunia dan terutama pemimpin-pemimpin Islam untuk bersatu dan mengenyampingkan kepentingan semu mereka demi membela hak rakyat Palestina untuk bisa hidup damai di tanah mereka sendiri.

Mari di bulan suci Ramadhan yang penuh berkah ini, kita membantu sekuat tenaga saudara-saudara kita di Palestina dengan berbagai macam cara. Seperti halnya mendoakan mereka, memberikan infaq, menyumbangkan harta benda kita, serta memboikot produk-produk Yahudi yang merupakan sumber utama terbesar untuk membiayai setiap rudal yang mereka tembakan ke rumah-rumah warga Palestina.

Kita insya Allah akan dapat membuat perubahan jika kita lakukan hal tersebut bersama-sama demi saudara-saudara kita di Palestina. Sekecil apa pun bantuan kita akan sangat berharga dan tentunya bernilai di sisi Allah insya Allah. Semoga Allah memberikan ketabahan dan kesabaran serta memenangkan umat Islam di Palestina. Amin ya Rabbal ‘alamin.

* Teuku M. Ridha Al-Auwal, Alumni IELSP University of South Carolina, Amerika Serikat (2010), dan Mahasiswa Program Magister di Monash University, Australia. Email: tm.ridha.al.auwal@gmail.com

Komentar

Komentar

Check Also

Opini

Opini Opini Opini Opini Opini Opini Opini Opini Opini Opini Opini Opini Opini Opini Opini Opini Opini Opini  Opini Opini Opini Opini Opini  Opini Opini Opini Opini Opini Opini Opini Opini Opini Opini Opini Opini Opini Komentar Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *