Home / Internasional / RI Tuntut Penjelasan Australia Soal Kapal Pencari Suaka

RI Tuntut Penjelasan Australia Soal Kapal Pencari Suaka

bidik.co – Menteri Luar Negeri RI, Retno L.P Marsudi mengaku telah bertanya kepada Duta Besar Australia untuk Indonesia, Paul Grigson, mengenai adanya laporan pembayaran sejumlah uang kepada kru kapal yang membawa 65 pencari suaka ke perairan Indonesia. Menurut laporan media Australia, enam kru kapal menerima bayaran senilai AUD$7.000 atau setara Rp72 juta. Artinya, masing-masing kru menerima AUD$5.000 atau Rp51 juta.

Laman Rappler, Sabtu, 13 Juni 2015 melansir, Retno prihatin jika laporan tersebut memang benar. Oleh sebab itu, isu tersebut telah ditanyakan ketika bertemu Grigson di sela konferensi mengenai kebijakan luar negeri di Hotel Grand Sahid, Jakarta Selatan.

“Saya baru saja bertanya kepada dia: ‘hal ini mengenai apa, katakan kepada saya, soal apa hal ini’?,” ujar Retno.

Mantan Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda itu mengatakan Grigson berjanji akan meneruskan pertanyaannya kepada Pemerintah Australia di Canberra.

“Dia juga berjanji akan segera kembali kepada saya untuk memberikan jawabannya. Kami benar-benar prihatin jika laporan itu ternyata benar,” tutur Retno.

Pemerintah Indonesia telah melakukan penyelidikan terhadap tuduhan pembayaran uang tersebut. Menurut Kepala Polisi di Pulau Rote, Hidayat, informasi tersebut diperoleh dari kapten kapal bernama Yohanes. Dia mengaku diberi uang oleh pejabat perbatasan dan bea cukai bernama Agus.

Agus diketahui fasih berbicara dalam Bahasa Indonesia. Pengakuan Yohanes ini turut dibenarkan oleh anggota kru kapal lainnya.

Perdana Menteri Australia Tony Abbott mengakui pemerintahannya menjalankan “strategi kreatif” untuk menghentikan kedatangan perahu-perahu pencari suaka ke negara itu. Ia menolak untuk menjawab apakah petugas perbatasan telah membayar kru perahu untuk memulangkan pencari suaka ke Indonesia.

Para pencari suaka itu sendiri berasal dari Sri Lanka namun kru perahunya merupakan warga Indonesia.

Laporan media mengutip keterangan kepala kepolisian Pulau Rote yang menyebutkan adanya pengakuan enam orang kru perahu yang masing-masing dibayar 5 ribu dolar oleh petugas Australia.

Bahkan, menurut pengakuan mereka, salah seorang petugas perbatasan Australia itu bernama “Agus” dan “berbahasa Indonesia”.

Namun dalam keterangan pers di Melbourne, Jumat (12/6/2015), PM Abbott menyatakan pihaknya memang menjalankan berbagai “strategi kreatif” demi menghentikan kedatangan perahu pencari memasuki wilayah Australia.

“Apakah yang kami lakukan adalah menghentikan perahu, sebab itulah yang harus kami lakukan dan telah berhasil kami lakukan,” katanya.

“Saya bangga dengan hasil kerja petugas di lapangan, dan mereka betul-betul kreatif dengan berbagai strategi untuk menmberantas perdagangan manusia ini,” katanya.

“Kami akan menjalankan apa yang perlu demi melindungi negara kami dari penyelundupan manusia dengan segala dampaknya,” tegas PM Abbott.

Ia tidak bersedia mengomentari tuduhan yang dikemukakan para pencari suaka yang menyebutkan bahwa petugas Australia membayar kru perahu Indonesia.

Menanggapi hal itu, juru bicara oposisi urusan imigrasi Richard Marles mengatakan, jika petugas perbatasan benar membayar kru perahu maka hal itu “berbahaya” sebab kapal AL Australia terlah berubah menjadi “ATM Terapung”.

“Seharusnya kita mengurangi faktor daya tarik dalam isu ini,” katanya.

“Penyelundup manusia tahu jika mereka tertangkap kapal AL Australia, mereka akan menerima uang. Apakah itu bukannya menambah daya tarik,” katanya.*****

Komentar

Komentar

Check Also

Kemungkinan Yunani Tak Bayar Utang ke IMF

bidik.co — Pemerintah Yunani mendorong warganya untuk menolak proposal reformasi keuangan yang diajukan oleh kreditor …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *