Home / Ekobis / Soal Proton, Jokowi Mau “Disetir” Mahatir Mohamad

Soal Proton, Jokowi Mau “Disetir” Mahatir Mohamad

bidik.co — Dalam kunjungannya ke Malaysia, Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi), menyempatkan diri untuk berkunjung ke Proton Excellence Center di Shah Alam, Malaysia. Dalam kunjungannya tersebut, Jokowi juga menguji Iriz, sebagai mobil murah milik Proton.

Istimewanya, Jokowi duduk di kursi penumpang depan dan disetir langsung oleh Chairman Proton, Mahathir Mohamad. Bahkan, Mahathir dan Jokowi sempat menggeber Iriz dengan kecepatan tinggi sebanyak tiga putaran.

Mahathir Mohamad yang tidak segan-segan menginjak pedal gas untuk membuktikan performa Iriz, menyatakan kekagumannya kepada Jokowi. Dia mengatakan, Jokowi terlihat tenang meski dikemudikan oleh orang dengan usia yang tidak lagi muda.

“Biasanya, orang tidak suka dikemudikan oleh pengemudi berusia 90 tahun. Tapi dia (Jokowi) tidak terlihat takut, sebaliknya dia malah bahagia dan tersenyum,” kata Mahathir usai mengetes Iriz kepada wartawan, seperti dilansir The Star, Sabtu (7/2/2015).

Sebelumnya, Jokowi juga menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman antara Proton dan perusahaan Indonesia PT Adiperkasa Citra Lestari untuk mempelajari kemungkinan pengembangan mobil nasional Indonesia.

“Jokowi ingin membuat Indonesia lebih baik dan berpikir Indonesia masih sangat bisa berkembang. Malaysia bisa berfungsi sebagai mitra kerja yang baik untuk Indonesia,” tambah Mahathir Mohamad.

Sementara itu mengenai kerjasama Indonesia dengan Proton, yang penandatanganan memorandum of understanding (MoU) yang dilakukan dengan Proton Holdings Bhd (Malaysia), Jumat (6/2/2105), menuai pro dan kontra.

Dalam penandatanagan MoU tersebut, Presiden Joko Widodo ikut menyaksikan prosesi tersebut bersama Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Najib Tun Razak. Ada pula bos Proton, Tun Dr Mahathir Mohamad, Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Datuk Seri Zahrain Mohamed Hashim, dan Duta Besar Indonesia untuk Pemerintah Malaysia, Herman Prayitno.

Menanggapi reaksi publik, akhirnya bos PT Adiperkasa Citra Lestari Hendropriyono angkat bicara melalui pesan yang dikirimkan ke berbagai media, Minggu (8/2/2015).

“Adapun soal membangun pabrik mobil made in Indonesia, sudah menjadi cita-cita saya sejak kebatalan KIA yang saya pegang, karena prinsipalnya diakuisisi oleh Hyundai. Dengan bersemboyan pada “Old soldier never die”, pada senja hidup saya ini saya masih ingin berbakti kepada bangsa kita, yang celakanya termasuk kepada para demagog di antara masyarakat kita,” tulis Hendropriyono.

Dijelaskan, bakti yang diinginkan tersebut berdasarkan pemikiran bahwa dulu waktu bangsa Indonesia bikin pabrik sepeda, anak bangsa negara-negara tetangga belum bisa membuat. Sekarang saat ada yang bikin pabrik mobil, di Indonesia malah belum ada.

“Bangsa kita bisa jadi pecundang, karena ada saja oknum yang tidak merasa malu menjelek-jelekkan orang lain yang dia sendiri tidak berbuat apa pun untuk bangsanya. Pabrik mobil nasional (nation=bangsa) yang saya cita-citakan bukanlah mobil negara,” lanjut mantan Kepala Badan Intelijen Negara itu.

Dituliskan pula bahwa pabrik yang akan dibangun disebut mobil nasional terjadi karena salah kaprah istilah. “Sebaiknya yang bersangkutan belajar dulu istilah-istilah akademik dengan benar,” urai penggawa Hendropriyono Corporation Indonesia (HCI) itu.

“Pabrik mobil asli buatan Indonesia perlu dana sangat besar, yang saya dapat pinjam dari sindikasi beberapa lembaga keuangan luar negeri. Proyek ini merupakan usaha padat karya, insya Allah bisa menampung sampai dengan 6.000 tenaga kerja. Yang saya tahu jangka waktunya sangat jauh lebih lama daripada usaha properti dan lain-lain yang saya geluti, dalam mendatangkan keuntungan perusahaan,” tutur Hendro.

Selanjutnya Jenderal berbintang empat ini menandaskan, “Saya cs menggandeng Proton, untuk kerja sama dalam R&D dan teknik. Atas dasar itu, akan lebih efisien bagi kita dalam membangun infrastruktur beserta gelar after sale dan networking-nya. Kerja sama ini sifatnya B to B. Kami swasta, Proton juga kini swasta.”

“Kita harus berterima kasih kepada Presiden Jokowi yang mau diajak PM Najib dan Tun Mahathir, menyaksikan anak-anak bangsa dari kedua negaranya membangun kerja sama menghadapi tantangan negara-negara maju. Seyogianya sebagai pemerintah memacu semangat rakyatnya, untuk bersama-sama membangun negaranya sendiri. Obama pun di Bali menyaksikan kawan kita swasta bertransaksi dengan Boeing Amerika. Itu karena kita beli, apalagi ini yang karena kita mau membangun pabrik sendiri!” tutup Hendropriyono.(*)

Komentar

Komentar

Check Also

PIRA Akan Menangkan GERINDRA Dalam Pemilu 2019

bidik.co – Menghadapi Pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif tahun 20019, Perempuan Indonesia Raya (PIRA) yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *