Home / Gaya Hidup / Tak Ingin Bergantung Medsos, Brand Ingin Jadi Publisher

Tak Ingin Bergantung Medsos, Brand Ingin Jadi Publisher

bidik.co — Iklan mobile dan kampanye marketing melalui media sosial kini jadi pilihan sebagian besar brand. Namun mereka tidak mau terus menerus bergantung mengiklan pada media sosial seperti Facebook dan Twitter.

“Trennya sekarang adalah, brand sedang ingin punya media sendiri. Karena setiap tahun brand ini melihat pengeluaran advertising mereka untuk mobile di Facebook Twitter makin naik terus,” kata CEO aplikasi pembaca konten Kurio, David Wayne Ika saat mengobrol dengan sejumlah media di Pacific Place, Rabu (25/2/2015).

Dikatakannya, karena tujuan para brand mengalokasikan budget khusus untuk kampanye marketing di media sosial,pada intinya adalah meningkatkan eksistensi dan kesadaran konsumen akan brand mereka.

“Supaya orang ngeh iklannya, dia ngeklik dan trafiknya masuk ke dia. Daripada mereka terus spending budget mereka di iklan, mereka lebih banyak sisihkan budget mereka untuk build their own asset,” ujarnya.

David memberikan contoh sukses brand produk kecantikan asal Amerika Serikat Loreal. Brand tersebut membuat website kecantikan yang menarik, dan para pengaksesnya tidak merasa dijejali iklan atau kampanye marketing.

“Jadi kalau orang masuk ke situsnya itu, they just look like misalnya Cosmopolitan. Gak berasa kalau itu punya sebuah brand karena isinya soal lifestyle, kecantikan. Jadi itu trennya sekarang, istilahnya nyicil untuk aset media. Karena gak selamanya mereka akan ketergantungan sama Facebook dan Twitter,” jelasnya.

Kurio sendiri, meski memperkenalkan diri sebagai news app, namun ke depannya akan memperluas kontennya agar lebih variatif, termasuk menggandeng konten dari brand.

“Kami memang lebih mudah memperkenalkan diri sebagai news app awalnya. Tapi nantinya konten kami akan lebih banyak. Kurio ingin jadi platform distribusi untuk konten publisher, brand, blogger, komunitas dan banyak lagi,” katanya.

Mengingat Kurio nantinya juga akan memfasilitasi konten dari brand, bukan tidak mungkin aplikasi yang baru dirilis Januari tahun lalu ini juga bakal bersaing dengan iklan di Facebook dan Twitter.

“Karena spacenya mobile, ya. Pelan-pelan bakal kesitu. Spending dari brand itu sekarang untuk advertising ke mobile. Revenue Facebook, Twitter, Google itu kan banyak di-drive dari iklan mobile,” simpulnya.

Sementara itu perusahaan internet dunia seperti Google, Facebook, dan Twitter masing-masing memiliki platform advertising (iklan) sendiri. Platform iklan itu disebut oleh pendiri perusahaan pengepul berita Kurio sebagai platform yang “nyandu.”

“Bagi advertiser yang sudah merasakan bagaimana beriklan di Google, Facebook, dan Twitter, mereka tahu iklan di situ kayak narkotika,” demikian kata CEO Kurio, David Wayne Ika di sela acara jumpa media, Rabu (25/2/2015) di Jakarta.

Mengapa bisa begitu? Sebab menurut David, iklan di Google, Facebook, dan Twitter, pengaruhnya terhadap brand awareness sebuah produk sangat besar. “Bikin kecanduan, karena begitu langsung distop, maka (brand awareness) akan langsung drop,” katanya.

Karena itu, menurut David, brand-brand saat ini mencoba mengalihkan anggaran mereka dari beriklan di Google, Facebook, dan Twitter menjadi untuk membangun aset mereka sendiri.

“Pelan-pelan, mereka (brand) membangun aset sendiri, membangun website dan aplikasi, ujung-ujungnya nanti ke situ,” katanya.

Menurut David, cara itu adalah cara yang lebih bagus untuk berkomunikasi dengan konsumen, alih-alih memberikan iklan advertorial secara hard sale.

Tren beriklan yang sedang dalam masa peralihan itulah yang ditangkap oleh Kurio. David menjelaskan, ke depannya Kurio diharapkan bukan sekadar menjadi aplikasi pengepul berita saja, namun juga bisa dimanfaatkan oleh brand-brand sebagai platform beriklan yang lebih “sopan.”

Yang dimaksud dengan sopan adalah memberikan suguhan konten yang lebih berkualitas, bukan sekadar advertorial yang hard sale. Sebagai contoh adalah metode iklan native ads, konsumen disuguhi konten yang berisi, sehingga mereka mau membaca dan tidak sadar bahwa materi yang mereka baca sebenarnya adalah iklan.

“Contohnya artikel review mobil, gadget, dan sebagainya, kita kan lebih senang membacanya,” ujar David.

Menurut David, konsumen saat ini sudah bisa membedakan mana konten advertorial yang bagus dan yang sifatnya hard sale. Yang terakhir disebut itulah yang kini kian banyak ditinggalkan.

“Kalau banner iklan di mobile site, banyak yang sudah tidak mau klik, mereka makin pintar, bahkan ada yang sampai memasang ad blocker di browser lho,” katanya. (*)

Komentar

Komentar

Check Also

Sri Meliyana: Pancasila Jadi Perekat Bangsa Indonesia Yang Beragam

bidik.co — Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang sangat kaya, baik jumlah penduduknya, adat istiadatnya, suku, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *