Home / Tekno / Cerdas Bermedia Sosial: Nuroji Dorong Masyarakat Lawan Hoaks dan DFK

Cerdas Bermedia Sosial: Nuroji Dorong Masyarakat Lawan Hoaks dan DFK

Bidik.co — Depok — Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat membawa banyak manfaat bagi masyarakat. Namun di sisi lain, kemudahan akses informasi juga membuka ruang bagi beredarnya berita hoaks serta DFK (disinformasi, fitnah, dan kebencian), yang dapat menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

“Oleh karena itu, literasi digital dan sikap bijak dalam menerima informasi menjadi hal yang sangat penting untuk terus diperkuat. Cerdas bermedia sosial sangat penting, agar masyarakat terhindar dari hoaks dan DSK, yaitu disinformasi, fitnah, dan kebencian,” tutur Anggota MPR RI, Nuroji, dalam kegiatan Sosialisasi Hasil Keputusan MPR RI yang dilaksanakan di Kota Depok, Sabtu (14/3/2026).

Menurut Nuroji, arus informasi yang cepat di media sosial sering kali membuat masyarakat menerima berbagai kabar tanpa proses verifikasi yang memadai. Kondisi ini dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menyebarkan informasi yang tidak benar, terutama yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah. Jika tidak disikapi secara kritis, informasi yang menyesatkan tersebut berpotensi memicu konflik sosial dan memecah persatuan masyarakat.

Anggota Komisi IX  DPR RI yang membidangi kesehatan, ketenagakerjaan, dan makan bergizi ini menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menghadapi maraknya penyebaran hoaks. Menurutnya, masyarakat harus memiliki kemampuan untuk memilah dan memverifikasi informasi sebelum mempercayai ataupun menyebarkannya kepada orang lain.

Nuroji menjelaskan bahwa berita hoaks sering kali dibuat dengan narasi yang provokatif dan emosional agar mudah menarik perhatian publik. “Informasi yang mengandung unsur disinformasi, fitnah, dan kebencian biasanya dirancang untuk menciptakan keresahan serta memicu perpecahan di tengah masyarakat. Karena itu, diperlukan sikap kritis dan tanggung jawab bersama dalam menjaga ruang informasi yang sehat,” pintanya.

Politisi Partai Gerindra itu juga menyampaikan bahwa perbedaan pandangan terhadap kebijakan pemerintah merupakan hal yang wajar dalam kehidupan demokrasi. Namun perbedaan tersebut seharusnya disampaikan melalui cara yang konstruktif dan berdasarkan fakta, bukan melalui penyebaran informasi yang tidak benar ataupun narasi yang menyesatkan.

“Di era digital seperti sekarang, masyarakat harus semakin bijak dalam menerima informasi. Jangan mudah percaya pada berita yang belum jelas sumbernya. Kita perlu memastikan kebenaran informasi sebelum menyebarkannya, agar tidak ikut memperluas penyebaran hoaks yang dapat memecah persatuan,” ujar Nuroji.

Menurut Nuroji, upaya menangkal hoaks merupakan pengamalan Pancasila, yaitu wujud menjaga persatuan dan beradab dalam bermedia sosial. “Ini melibatkan penerapan Pancasila, sila ke-2 menghormati martabat manusia dengan tidak menyebarkan fitnah atau ujaran kebencian dan sila ke-3, menjaga persatuan dengan menyaring informasi agar tidak terpecah belah,” tegas Nuroji.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun budaya literasi digital yang lebih kuat. Pendidikan mengenai cara mengenali hoaks, memahami sumber informasi yang kredibel, serta menggunakan media sosial secara bertanggung jawab dinilai sangat penting untuk mencegah berkembangnya disinformasi di ruang publik.

Melalui upaya bersama antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait, diharapkan penyebaran hoaks dan DFK dapat diminimalisir. Dengan ruang informasi yang sehat dan masyarakat yang semakin cerdas dalam memilah berita, persatuan dan kerukunan sosial dapat terus terjaga di tengah dinamika kehidupan demokrasi Indonesia. (gha/irm)

Komentar

Komentar

Check Also

Baru, Youtube Newswire Tampung Video Jurnalisme Warga

bidik.co – Banyaknya video yang ada di YouTube membuat masyarakat kesulitan untuk membedakan video yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.