Home / Kolom_2 / KRITIK ADALAH SENI !

KRITIK ADALAH SENI !

Agha Abitha I,  Peneliti Muda  Durchblick Synergy Institute

Bidik.co — Mengkritik sering kali membuat orang salah paham. Banyak yang menganggap kritik itu sinonim dengan kebencian atau perlawanan. Padahal, menurut Founder  Malaka Institute , Ferry Irwandi, kritik justru bisa menjadi wujud kepedulian, bahkan kasih sayang. Ibarat masakan, kritik itu bumbu. Kalau dipakai pas, rasanya bisa bikin sesuatu jadi lebih baik, bukan malah basa.

Langkah pertama sebelum melontarkan kritik adalah bertanya pada diri sendiri: “Tujuan gue apa sih?” Ingin mengubah sesuatu? Mau meluapkan unek-unek? Mau dapat panggung? Semua sah-sah saja, asalkan tujuan jelas. Karena tanpa tujuan, kritik hanya jadi teriakan kosong yang hilang begitu saja.

Kalau tujuannya jelas, barulah kita bisa menentukan cara menyampaikannya. Tidak semua kritik harus diumbar di publik. Kadang-kadang, ngobrol empat mata lebih efektif dan lebih tulus. Tapi kalau memang ada kebutuhan untuk menekan pihak tertentu atau menyadarkan masyarakat, menyampaikan kritik di ruang terbuka bisa jadi pilihan yang tepat. Intinya: beda tujuan, beda cara utama.

Di dalam soal gaya menyampaikan kritik, ini yang sering membuat orang bingung. Baiklah selalu sopan? Belum tentu! Kadang kritik lembut lebih didengar, kadang kritik keras justru perlu. Yang penting adalah relevan dengan situasi. Kritik keras bukan berarti benci, dan kritik lembut bukan berarti lemah. Semua soal membaca konteks.

Tapi ada aturan main penting yang Ferry tekankan: “Jangan pernah menyerang personal. Hindari kata-kata kasar, cakupan, atau stempel negatif. Begitu kita masuk ke ranah ad hominem, substansi kritik langsung kabur. Hal ini sebuah kesalahan logika atau serangan pribadi dalam memunculkan argumen yang bertujuan menyerang karakter, latar belakang, atau atribut pribadinya, bukan substansi argumentasinya. Orang yang dikritik jadi punya alasan untuk menyerang balik, bukan untuk mendengar. Kritik yang baik harus fokus ke masalah, bukan ke orang”.

Contohnya, Ferry pernah mengkritik tokoh masyarakat yang sangat populer saat itu. Banyak orang sudah mengkritik, tapi sering melenceng ke hal-hal pribadi, sehingga tidak didengar. Ferry memilih cara berbeda: “Fokus ke substansi, tanpa olok-olok. Hasilnya? Kritiknya justru direspon serius, meski dengan cara yang salah oleh si tokoh. Tapi di situ terlihat bahwa menjaga substansi membuat kritik lebih kuat”.

Pikiran Ferry itu dapat kita perbandingkan dengan pendapat Budiwan mengenai Kritik Immanuel Kant terhadap Faham Rasionalisme dan Empirisme, yang menyebutkan bahwa Immanuel Kant menentang Faham Rasionalisme serta Empirisme melalui Filsafat Kritisisme.

Teori Filsafat Kritisisme Immanuel Kant menjelaskan mengenai sintesa di antara aliran rasionalisme dan empirisme. Jadi, indra dan akal bekerja sama guna menghasilkan pengetahuan pasti. Akan mempunyai peran sebagai tempat pengolahan, sedangkan indra berfungsi untuk menyediakan bahan mentah. Kant juga mengungkapkan bahwa pengetahuan yang diungkapkan oleh aliran rasionalisme dicerminkan dalam kesimpulan yang bersifat analitik-apriori.

Artinya, keputusan yang menempatkan predikat juga dimasukkan sendiri ke dalam subjek. Di sisi lain, pengetahuan menurut aliran empirisme menyebutkan bahwa kesimpulan mempunyai sifat sintetik-aposteriori atau predikat belum termasuk subjek.

Hal serupa juga terjadi jika menyoroti pembuat konten yang menjadikan kemiskinan sebagai bahan tontonan. Banyak yang sudah mengkritik sebelumnya, tapi tidak mempan. Ketika Ferry mengangkat isu yang sama dengan cara lebih terarah, kritiknya justru diakui langsung oleh sang pencipta. Sekali lagi, bukti bahwa menjaga esensi kritik membuat orang mau mendengarkan.

Namun, jangan lupa: “Kritik itu punya harga. Setiap kali kita mengkritik, kita harus siap dengan konsekuensinya. Ada yang membalas dengan argumen, ada yang marah, bahkan ada yang mencoba menyerang balik. Itulah mengapa penting untuk menyadari bahwa kritik datang bersama tanggung jawab. Kalau tidak siap, lebih baik tahan dulu”.

Banyak orang merasa aman dengan anonim. Memang benar, ada situasi di mana anonimitas penting, terutama ketika menyentuh hal sensitif. Tapi jangan terlalu percaya diri. Anonimitas itu rapuh. Justru karena orang tidak tahu identitas kita, mereka bisa lebih mudah “menghilangkan” kita. Menurut Ferry, merasa kebal hanya karena memakai akun anonim adalah kesalahan fatal.

Lalu, apakah kritik harus selalu membawa solusi? Tidak juga. Terkadang kritik hanya perlu membuka mata orang tentang suatu masalah. Tapi tetap, jika bisa menawarkan alternatif, itu akan memperkuat bobot kritik. Solusi bukan kewajiban, tapi bonus yang membuat kritik lebih bernilai.

Pada akhirnya, seni pukulan adalah soal rasa. Bagaimana kita menimbang waktu, memilih kata, dan menentukan tempat. Kritik bisa keras tapi tetap tanpa kebencian. Kritik bisa lembut tapi tetap mengena. Dan seni ini bisa dipakai di banyak situasi: di kantor, di sekolah, bahkan dalam hubungan sehari-hari.

Ferry berkesimpulan: “Selalu sisakan ruang untuk tenang sebelum melontarkan kritik. Baca ulang, pikir ulang, dan pahami risikonya. Begitu kita siap dengan konsekuensi, kritik yang kita sampaikan akan lebih kuat dan lebih menyeluruh. Karena kritik sejati bukan sekadar marah-marah, tapi usaha sadar untuk membuat sesuatu jadi lebih baik”. (*)

Komentar

Komentar

Check Also

Gugurnya Kasus Hukum Olga

Ummu Salamah Dosen Fakultas Hukum Universitas Nasional Jakarta bidik.co — Komedian paling bersinar Olga Syahputra meninggal …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.