Home / Kolom_1 / Resolusi Pelajar: Harapan Orang Tua dan Kesehatan Mental

Resolusi Pelajar: Harapan Orang Tua dan Kesehatan Mental

Agha Abitha I,  Peneliti Muda  Durchblick Synergy Institute

Bidik.co — Memasuki tahun baru, banyak pelajar membuat daftar target. Target itu bisa berupa nilai yang lebih tinggi, masuk jurusan favorit, atau ikut kegiatan ekstrakurikuler yang prestisius. Di balik semua itu, ada satu hal yang sering dilupakan: bagaimana kita bisa menjaga kesehatan mental sambil mengejar target-target tersebut. Tanpa keseimbangan, tujuan itu bisa menjadi beban yang justru melemahkan kita.

Kenyataannya, isu kesehatan mental di kalangan pelajar Indonesia bukan sekadar cerita. Menurut survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022, sekitar 34,9% remaja mengalami masalah kesehatan mental. Ini termasuk kecemasan atau depresi dari yang ringan hingga berat. Statistik ini menunjukkan bahwa hampir 3 dari 10 pelajar berada dalam kondisi yang perlu diperhatikan.

Penelitian di Jakarta menunjukkan bahwa 34% pelajar SMA mengalami gangguan kesehatan mental emosional. Ini termasuk kesulitan dengan teman sebaya dan perasaan tertekan di sekolah. Fakta lainnya adalah sebagian besar pelajar lebih memilih untuk bercerita kepada teman sebaya daripada guru atau konselor. Ini menunjukkan bahwa stigma dan rasa tidak aman masih menghalangi akses ke dukungan formal.

Sebagai solusi awal, literasi kesehatan mental di sekolah perlu ditingkatkan. Edukasi yang baik tidak hanya memberi pengetahuan, tetapi juga mengurangi stigma. Edukasi ini mendorong pelajar untuk mengenali tanda-tanda stres atau kecemasan dan tahu ke mana harus mencari bantuan yang tepat. Program edukasi seperti talkshow, diskusi, dan latihan emosional telah terbukti meningkatkan pemahaman siswa dan guru terhadap isu ini.

Konseling teman sebaya bisa menjadi strategi yang efektif jika dijalankan dengan baik di sekolah. Pelajar yang dipilih dan dilatih dapat menjadi pendengar pertama yang suportif. Mereka bisa membantu mendeteksi masalah awal sebelum berkembang menjadi lebih berat. Studi menunjukkan bahwa program ini dapat memberikan dukungan emosional yang signifikan, terutama jika dipandu oleh supervisi profesional.

Sekolah juga bisa mengintegrasikan kegiatan pengembangan keterampilan sosial, meditasi, atau manajemen stres dalam kegiatan rutinnya. Misalnya, dengan sesi relaksasi, ruang diskusi bebas, atau klub hobi. Kegiatan ini memberi ruang bagi pelajar untuk mengekspresikan diri tanpa tekanan akademik. Penelitian menunjukkan bahwa kemampuan mengatur emosi dan hubungan sosial sangat penting untuk kesejahteraan mental.

Di tingkat individu, pelajar bisa mulai dengan kebiasaan sederhana. Mereka bisa melatih kesadaran diri, menetapkan batas waktu belajar, dan memberi diri istirahat yang cukup. Keterampilan ini dapat membantu meredam kecemasan, memperbaiki fokus, serta meningkatkan rasa percaya diri menghadapi tantangan sehari-hari yang tidak bisa dihindari.

Orang tua dan guru memiliki peran besar dalam solusi ini. Komunikasi terbuka dan empati sangat penting. Ini memberikan pelajar ruang aman untuk berbicara tentang perasaan mereka tanpa takut dihakimi. UNICEF juga menekankan bahwa dukungan emosional dari orang tua membuat remaja merasa didengar dan dihargai. Ini memberikan landasan kuat untuk kesehatan mental mereka.

Dari sudut pandang kebijakan, Ahmad Baidhowi A. R. (Direktur Eksekutif Yayasan Sukma Bangsa) mengingatkan bahwa kesehatan mental pelajar harus menjadi prioritas nasional. Ini bisa dilakukan melalui peraturan yang mendukung integrasi layanan kesehatan mental di sekolah serta pelatihan untuk tenaga pendidik. Pelatih harus memahami dan merespons masalah kesehatan mental secara efektif.

Tahun baru bukan hanya soal pencapaian, tetapi juga tentang bagaimana pelajar belajar menjaga kesejahteraan diri mereka sendiri. Refleksi ini bukan tentang menyerah pada tekanan, tetapi tentang memahami bahwa kesehatan mental adalah fondasi utama. Dengan menjaga kesehatan mental, harapan orang tua, prestasi akademik, dan kebahagiaan pribadi bisa berjalan berdampingan, bukan saling menghancurkan. (*)

Komentar

Komentar

Check Also

Pembelajaran

Bidik.co — Istilah pembelajaran tidak asing dalam dunia pendidikan. Pengertian sederhananya, pembelajaran merupakan aktivitas yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.