Bidik.co — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam rapat di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Senin (9/2/2026) menyampaikan bahwa perekonomian Indonesia mencatat pertumbuhan sebesar 5,11% secara tahunan sepanjang 2025. Meski belum mencapai target yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), capaian tersebut dinilai positif karena melampaui pertumbuhan ekonomi China.
Pada kuartal IV-2025, ekonomi Indonesia tumbuh 5,39%, menjadi capaian tertinggi sejak kuartal III-2022 atau dalam lima tahun terakhir. Sehingga secara tahunan 5,11%, dan itu lebih tinggi dibandingkan China
Walaupun demikian Purbaya mengakui masih terdapat sejumlah risiko yang berpotensi menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku ekonomi, termasuk investor. Namun, ia menilai risiko tersebut relatif kecil dan telah diantisipasi oleh pemerintah.
Antisipasi itu berupa fokus memperkuat fondasi ekonomi, dan hasilnya mulai terlihat pada triwulan keempat tahun lalu. Kondisi yang sempat melemah berhasil dipulihkan.
Ke depan, Purbaya optimistis ekonomi nasional mampu tumbuh hingga 6% dalam waktu dekat, seiring implementasi berbagai kebijakan yang telah diluncurkan sejak akhir 2025. Karena Pemerintah memiliki instrumen kebijakan yang tepat, dan diyakini kebijakan tersebut sangat efektif untuk mendorong pertumbuhan ke level 6%.
Pendorong pertumbuhan
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melampaui China, khususnya di tahun 2025 yang mencapai 5,11%, utamanya didorong oleh konsumsi rumah tangga yang kuat, investasi yang meningkat, serta hilirisasi industri. Ketahanan ekonomi nasional ini juga ditopang oleh stabilitas keuangan, pengelolaan inflasi yang baik, dan ekspor yang tetap terjaga.
Pertama, konsumsi domestik yang kuat. Konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama ekonomi, terutama karena daya beli masyarakat yang terjaga, menjadikannya faktor penting saat ekonomi global melambat.
Konsumsi domestik Indonesia, terutama konsumsi rumah tangga, tetap kokoh sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi, berkontribusi sekitar 54%—60% terhadap PDB, dan berhasil meredam dampak perlambatan global. Semula pertumbuhan ekonomi 2025 diproyeksikan tumbuh 5,06%—5,11% yoy, didorong oleh peningkatan belanja kelas menengah, digitalisasi, serta stabilitas harga, dan akhirnya terwujud.
Kedua, hilirisasi industri. Kebijakan hilirisasi, terutama di sektor nikel dan besi baja, memberikan kontribusi signifikan terhadap nilai ekspor dan pertumbuhan. Hilirisasi industri Indonesia yang kuat difokuskan pada peningkatan nilai tambah sumber daya alam (SDA; nikel, sawit, tembaga, bauksit) melalui smelter dan pengolahan domestik, didukung 18 proyek strategis senilai Rp618 triliun untuk memperkuat ekspor dan ekonomi. Langkah ini mengubah ekspor bahan mentah menjadi barang jadi/setengah jadi, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong transfer teknologi.
Ketiga, investasi asing dan domestik. Peningkatan investasi, termasuk dari hasil pembangunan infrastruktur, membantu memperkuat fondasi ekonomi.
Investasi di Indonesia pada 2025 menunjukkan pergeseran ke arah penguatan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), yang mencapai 53,4% (Rp1.030,3 triliun) dari total realisasi, melampaui Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar 46,6%.
Singapura, Hong Kong, China, Malaysia, dan Jepang merupakan investor asing utama. Tren ini didorong oleh reformasi regulasi dan peran Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
Keempat, sinergi kebijakan. Kebijakan fiskal dan moneter yang konsisten dalam menjaga inflasi dan stabilitas sektor keuangan, serta optimalisasi sumber daya manusia dan alam, turut berkontribusi.
Sinergi kebijakan fiskal (Kemenkeu) dan moneter (Bank Indonesia) di Indonesia difokuskan pada penguatan stabilitas makroekonomi dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Melalui koordinasi erat, kebijakan fiskal yang ekspansif/pruden dan kebijakan moneter yang terukur (seperti penyesuaian suku bunga/BI-Rate) saling melengkapi untuk mengendalikan inflasi dan mendorong pertumbuhan.
Melambatnya ekonomi China
Berbeda dengan Indonesia, ekonomi China mengalami tantangan yang menyebabkan pertumbuhan melambat, sementara Indonesia menunjukkan resiliensi yang tinggi pada tahun 2025.
Pertumbuhan ekonomi China sepanjang tahun 2025 tercatat sebesar 5,0%, berhasil mencapai target resmi pemerintah meskipun menghadapi tantangan pelemahan sektor properti dan konsumsi domestik yang lesu. Pertumbuhan ini ditopang oleh kinerja ekspor yang kuat. Namun, laju ekonomi melambat pada kuartal keempat 2025 (Q4-2025) menjadi 4,5% yoy, terlemah dalam hampir tiga tahun.
Ketika mesin ekonomi China melambat, dampaknya tidak berhenti di Negeri Tirai Bambu saja. Bagi Indonesia, tekanan bisa langsung merambat ke ekspor, investasi, dan kepercayaan pasar. Dalam hubungan dagang dan investasi yang semakin dalam, arah ekonomi China menjadi sinyal risiko yang wajib dicermati.
Penyebab utama melambatnya ekonomi China pada 2026 meliputi krisis sektor properti, utang pemerintah daerah yang tinggi, lemahnya konsumsi domestik, serta tekanan eksternal dari tensi dagang dengan AS. Kombinasi populasi yang menua cepat dan kelebihan kapasitas produksi (deflasi) turut menghambat pertumbuhan, menekan target ekonomi tahunan.
Pertama, krisis properti. Sektor properti dan turunannya yang menyumbang hampir sepertiga PDB China sedang terpuruk. Penjualan properti anjlok, investasi properti menyusut, dan utang raksasa properti seperti Evergrande memicu ketidakpastian.
Kedua, lemahnya konsumsi domestik & deflasi. Konsumen China cenderung menabung daripada berbelanja, didorong oleh kurangnya kepercayaan konsumen dan ketidakstabilan pasca-pandemi. Hal ini memicu deflasi, di mana harga barang turun karena permintaan lemah.
Ketiga, utang pemerintah daerah. Pemerintah daerah menghadapi beban utang tinggi akibat bertahun-tahun melakukan investasi besar-besaran di proyek infrastruktur yang kurang efisien.
Ketiga, ketegangan perdagangan (eksternal). Tensi dagang dengan Amerika Serikat dan kebijakan proteksionis negara lain menekan ekspor China. Pembatasan ekspor mineral penting juga memperumit situasi perdagangan.
Faktor struktural (demografi). Populasi yang menua dengan cepat mengurangi jumlah tenaga kerja dan meningkatkan beban pensiun, yang berdampak jangka panjang pada pertumbuhan ekonomi.
Keempat, kelebihan kapasitas (overcapacity). China memproduksi barang (seperti kendaraan listrik) melebihi permintaan domestik, yang menyebabkan tekanan pada produsen dan potensi perdagangan internasional.
Upaya pemerintah China untuk beralih dari pertumbuhan berbasis properti menuju sektor teknologi dan konsumsi domestik masih menghadapi tantangan besar.
Peluang Indonesia
Pelemahan ekonomi China memberikan peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan diversifikasi ekspor ke negara tujuan lain, menarik investasi relokasi industri (seperti nikel/EV), dan memperkuat konsumsi domestik. Meskipun ekspor komoditas utama berpotensi melambat, situasi ini membuka ruang bagi produk non-migas Indonesia seperti kopi, cokelat, dan kelapa.
Pertama, relokasi investasi. Potensi masuknya investasi asing yang keluar dari China karena perlambatan ekonomi, khususnya pada sektor industri pengolahan (smelter/baterai kendaraan listrik).
Kedua, diversifikasi ekspor. Indonesia dapat memaksimalkan ekspor komoditas non-migas seperti kakao, kopi, dan hasil kelapa ke pasar selain China, mengingat tren permintaan tinggi dari negara berkembang lainnya.
Ketiga, peningkatan nilai tambah. Dorongan untuk mempercepat hilirisasi komoditas (seperti nikel) agar tidak hanya mengandalkan ekspor bahan mentah ke China, meningkatkan nilai tambah dalam negeri.
Keempat, penguatan industri domestik. Peluang untuk substitusi impor dengan meningkatkan daya saing industri tekstil dan alas kaki dalam negeri, menyusul potensi menurunnya barang impor murah dari China.
Tantangan utama terhadap perlambatan ekonomi China
Di sisi lain terhadap perlambatan ekonomi China, ada tantangan utama yang muncul bagi Indonesia; Pertama, penurunan ekspor. Perlambatan ekonomi China sebesar 1% dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 0,14% karena penurunan permintaan batubara dan nikel.
Kedua, defisit perdagangan. Risiko banjir produk murah dari China ke Indonesia yang berpotensi melebarkan defisit perdagangan.
Sebab setiap penurunan 1% ekonomi China berdampak negatif pada sektor riil dan komoditas Indonesia, memaksa perlunya kebijakan fiskal dan moneter yang resilien.
BIDIK.co Terbaik untuk Masyarakat

Website & Logo Maker