Home / Analisis / Peta Kekuatan Dua Koalisi dalam Pemilihan Pimpinan MPR

Peta Kekuatan Dua Koalisi dalam Pemilihan Pimpinan MPR

bidik.co — Jika tak ada perubahan mendasar, pemilihan pimpinan MPR dalam sidang paripurna, Selasa (7/10/2014), akan dilakukan dengan proses voting. Baik Koalisi Merah Putih (KMP), yang mendukung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa saat pilpres lalu; maupun Koalisi Indonesia Hebat (KIH), yang mendukung pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla; sudah menyiapkan paket masing-masing.

Koalisi Merah Putih sejak Senin (6/9/2014) kemarin mengumumkan bahwa paket pimpinan yang diajukan akan terdiri dari Partai Demokrat untuk jabatan ketua MPR, serta Golkar, PAN, PKS dan DPD untuk jabatan wakil ketua MPR. Gerindra, yang tak mendapatkan kursi pimpinan, sejauh ini tetap solid dan akan mendukung paket ini.

Adapun Koalisi Indonesia Hebat mendapatkan kekuatan tambahan dengan bergabungnya Partai Persatuan Pembangunan. Nantinya, paket yang akan diajukan terdiri dari DPD untuk jabatan ketua MPR, serta PDI-P, PKB, Partai Nasdem, dan PPP untuk jabatan wakil ketua.

Partai Hanura, yang mengalah dan tidak mendapatkan kursi pimpinan, sejauh ini tetap solid mendukung paket ini. Jika dijumlah tanpa mengikutsertakan DPD, maka Koalisi Merah Putih tetap memiliki suara paling besar, yakni 313 orang.

Koalisi Indonesia Hebat, yang sudah mendapatkan PPP sebagai tambahan kekuatan, tetap kalah karena hanya berjumlah 247 orang.

Namun perlu diingat bahwa DPD yang mengusung Oesman Sapta sebagai calon pimpinan DPR memiliki kursi paling besar dibanding semua partai yang ada di DPR, yakni 132 orang. Bukan tidak mungkin, paket Jokowi-JK akan keluar sebagai pemenang jika mendapatkan dukungan dari mayoritas DPD.

Koalisi Jokowi-JK sejauh ini sudah solid untuk mengusung Oesman Sapta sebagai ketua MPR. Ketua DPP PKB Abdul Kadir Karding meyakini, penempatan DPD sebagai ketua pada paket koalisinya akan berpengaruh pada sebaran suara DPD.

“Di kami jadi ketua, di satunya lagi cuma jadi wakil ketua. Berbeda. Menarik mana kira-kira?” ujar Karding.

Sementara itu, Koalisi Merah Putih sejauh ini masih keberatan dengan Oesman Sapta yang didaulat menjadi satu-satunya calon pimpinan MPR dari DPD. Mereka ingin ada nama alternatif sehingga bisa memilih. Dengan begitu, nantinya nama calon DPD yang masuk ke dalam paket Koalisi Merah Putih akan berbeda dengan koalisi Jokowi-JK.

Sekretaris Fraksi PKS di DPR, Abdul Hakim, mengungkapkan, ada dua nama yang dipertimbangkan oleh Koalisi Merah Putih. Mereka adalah senator asal DKI Jakarta, AM Fatwa; dan senator dari Jawa Tengah, Ahmad Muqowam.

“Pak AM Fatwa dulu kan PAN dan Ahmad Muqowam dari PPP,” kata Hakim.

Hal yang sama juga disampaikan Waketum Golkar Fadel Muhammad bahwa KMP lebih setuju apabila Ahmad Muqowam yang merupakan kader PPP untuk diajukan.

“Kita mengusulkan kalau boleh bukan nama Pak Oesman. Kalau bisa kita cari nama yang lain, Ahmad Muqowam,” kata Fadel di Gedung DPR, Senayan, Selasa (7/10/2014).

Fadel menuturkan bahwa KMP adalah tanggung jawab semua partai pengusung. Komposisi paket pimpinan MPR tanpa PPP dan Gerindra pun tetap dipertahankan.

“Sementara akan meyusun Ketua MPR demokrat, wakilnya Golkar, PAN dan PKS,” ujarnya.

KMP mengaku menolak bila satu nama yaitu Oesman Sapta dipakai di dua paket.

“Kita berpikir, masa seorang pengantin duduk di dua pelaminan. Ini kan ada pelaminan dua. A dan B. Sedangkan pengantinnya satu,” ucap Fadel.

Sementara itu, jika akhirnya Oesman diterima, maka akan ada dua paket pimpinan MPR. Bagaimana peta kekuatannya?

Jika akhirnya Oesman Sapta diterima oleh KMP, maka Oesman akan masuk di dua paket calon pimpinan MPR, baik itu paket KMP maupun paket koalisi pendukung Jokowi-JK. Oesman akan menjadi bagian paket yang divoting di paripurna.

Di paket KMP, jika tak ada perubahan, Oesman akan menjadi calon wakil ketua MPR. Paket lengkap KMP menjadi, calon ketua MPR Djoko Udjianto (Partai Demokrat), empat calon wakilnya adalah Oesman Sapta (DPD), Mahyuddin (Golkar), Zulkifli Hasan (PAN), dan Hidayat Nur Wahid (PKS). Ini adalah paket KMP tanpa PPP, sesuai pernyataan terakhir.

Paket ini disokong kekuatan KMP, minus PPP, yang berjumlah 313 kursi. Jumlah itu belum termasuk jumlah kursi dari DPD. Jumlah kursi DPD ada 130. Dua (2) Kursi lainnya tak dihitung karena 2 anggota DPD belum dilantik akibat tersangkut kasus dugaan korupsi.

Lalu bagaimana dengan paket Koalisi Indonesia Hebat?

Oesman Sapta akan ditempatkan sebagai calon ketua MPR di paket ini. Empat wakil ketuanya adalah Ahmad Basarah (PDIP), Bachtiar Aly (NasDem), Lukman Edy (PKB), dan Hasrul Azwar (PPP). PPP belum pasti masuk ke paket ini, walaupunn indikasinya semakin kuat.

Paket ini disokong 247 kursi. Jumlah itu belum termasuk kursi dari DPD. Masih kalah dari KMP.

Suara DPD akan jadi penentu. Jika diasumsikan suara DPD terbagi rata, maka masing-masing kubu akan mendapat tambahan 65 suara. KMP masih unggul jauh dari Koalisi Indonesia Hebat.

Bisa jadi anggota DPD lebih mengarah ke Indonesia Hebat, karena utusannya ditempatkan sebagai Ketua MPR. Dan untuk mengalahkan KMP, DPD harus benar-benar solid mengupayakan kursi ketua, tentunya dengan mendukung Koalisi Indonesia Hebat.

Mungkinkah DPD solid demi kursi ketua? Tapi seperti yang disampaikan oleh Ketua DPD RI Irman Gusman bahwa dirinya memahami dukungan kepada Oesman Sapta Odang (OSO) jadi pimpinan MPR RI, tidak bulat. Meskipun OSO menjadi satu-satunya calon yang diusung DPD hasil lewat voting di internal kemarin.

“Bisa saja dari 132 anggota DPD ada yang tak setuju,” kata Irman di Gedung Parlemen, Jakarta, Selasa (7/10/2014).

Namun jelas anggota DPD asal Sumatera Barat ini, DPD akan tetap mengajukan OSO sebagai calon pimpinan MPR.

Sebelumnya, jelas Irman, DPD sudah mengusul sembilan nama untuk dicalonkan jadi pimpinan MPR, namun dalam rapat konsultasi dengan pimpinan sementara MPR dan 10 fraksi, kelompok DPD diminta memunculkan satu nama. Makanya DPD memutuskan mengusung nama OSO lewat rapat di DPD.

Adapun hasil lengkap perolehan suara calon pimpinan MPR dari DPD; Asmawati (7), Abdul Gafar Usman (3), Hudani Rani (2), Oesman Sapta Odang (67), AM Fatwa (14), Ahmad Muqowam (14), John Peris (5), Hana Hasanah Fadel (5), dan Ajiep Padindang (2). Total suara 122 orang, dua orang abstain dan satu suara tidak sah. (ai)

Komentar

Komentar

Check Also

Sri Meliyana: Pemerintah Harus Bersikap Adil Atas Vaksin Karya Anak Bangsa

bidik.co — Baru beberapa waktu nama Vaksin Nusantara ramai dibahas khalayak publik, jalan Terawan Agus …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.