Home / Politik / Ahok dan Gerindra Jadi Pelajaran Bagi Semua Partai

Ahok dan Gerindra Jadi Pelajaran Bagi Semua Partai

bidik.co — Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro mengatakan, konflik yang terjadi antara Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dengan Partai Gerindra, harus dijadikan pembelajaran bagi politisi dan partai politik lain. Menurut Siti, konflik antara Ahok dan Gerindra terjadi karena tidak terjalinnya komunikasi yang baik antara partai dan politisinya

“Secara politik, buntutnya bisa panjang ketika Ahok dianggap melukai partai bahkan DPRD. Ini harusnya bisa menjadi pembelajaran bagi semua politisi dan khususnya parpol agar tak mengulangi hal yang sama,” ujar Siti, Jumat (19/9/2014).

Menurut Siti, ada beberapa langkah yang harus dilakukan partai dalam melakukan kaderisasi. Pertama, parpol perlu melakukan kaderisasi dan seleksi kader secara serius agar kader merasa memiliki partai, menghayati, dan memahami AD/ART ideologi serta platform partai. Kedua, lanjut Siti, kader perlu dibekali secara cukup materi-materi terkait landasan negara dan pilar-pilar kebangsaan, ketatanegaraan, demokrasi, serta nilai-nilai budaya Indonesia.

Ia menambahkan, kader juga perlu diikat dengan etika dan fatsun politik yang diterapkan partai serta peraturan-peraturan agar kader mampu menjaga sikap dan nama baik partai.

“Dengan memahami semua materi tersebut, diharapkan kader menjiwai, memiliki jatidiri yang mantap sebagai kader,” ucap Siti.

Siti menjelaskan, dengan bergabungnya seseorang ke partai tertentu, ada konsekuensi-konsekuensi logis yang harus diikuti karena orang tersebut telah sepakat untuk menjadi kader partai tersebut. Dengan demikian, lanjut Siti, partai tidak bisa lagi “asal comot” orang untuk menjadi kader dan tidak ada lagi kader yang membangkang dari aturan partai

“Jalan menerobos partai dalam sistem rekrutmen dan promosi pencalonan dalam pemilu, menghasilkan ekses-ekses negatif seperti kutu loncat dan mundur dari partai tanpa melalui proses yang jelas,” kata Siti.

Sebelumnya Wakil Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya Fadli Zon mengritik keras keputusan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang memilih keluar dari Gerindra. Fadli menyebut Ahok ibarat kutu loncat yang perlu dibasmi seperti hama.

“Justru, dengan adanya pilkada (dipilih) DPRD, menghindari kutu loncat itu lho. Kutu loncat itu, ya, hama pemakan daun. Di politik, dia hama bagi demokrasi. Itu harus diberantas kutu loncat-kutu loncat itu,” ujar Fadli seusai diskusi “Pilkada untuk Siapa?” di Warung Daun Cikini, Sabtu (13/9/2014).

Saat disebut nama Ahok sebagai kutu loncat yang dimaksud, Fadli Zon langsung membenarkan. “Ya, memang kutu loncat, kan. Dia juga mengakui, kan, dia kutu loncat,” tuturnya.

Artinya, kata Fadli, sebagai kutu loncat, Ahok hanya melihat partai sebagai batu untuk karier pribadinya. Menurut Fadli, partai bukan LSM atau ormas. Dalam partai, ada Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga.

“Kalau partai harus menggariskan A, dia harus patuh, walaupun berbeda dengan pendapat pribadi,” ujar Fadli. “Kalau semua orang bisa seenaknya seperti itu, dia tidak mengerti partai politik. Itu namanya garis partai,” tandasnya. (ai)

Komentar

Komentar

Check Also

Masih Ada Yang Mendukung, MPR Tolak Tuntutan PA 212 Bubarkan BPIP

bidik.co — Banyaknya aspirasi dari masyarakat yang masih mendukung keberadaan BPIP, Wakil Ketua MPR RI …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.