Saturday , September 18 2021
Home / Internasional / Dalai Lama: Suu Kyi Harus Bertindak Soal Rohingya

Dalai Lama: Suu Kyi Harus Bertindak Soal Rohingya

bidik.co — Dalai Lama mendesak peraih Nobel, Aung San Suu Kyi untuk berbuat lebih banyak guna membantu warga muslim Rohingya. Seruan ini disampaikan pemimpin spiritual Tibet itu di tengah krisis pengungsian warga Rohingya.

Ribuan warga Rohingya meninggalkan Myanmar dengan mengarungi lautan ganas untuk menuju negara-negara Asia Tenggara. Warga minoritas itu melarikan diri dari kemiskinan dan perlakuan diskriminasi yang diterimanya di Myanmar, yang mayoritas penduduknya beragama Buddha.

Namun sejauh ini, pemimpin oposisi Myanmar yang juga peraih Nobel Perdamaian, Suu Kyi, tidak pernah berkomentar mengenai penderitaan warga Rohingya.

Para pengamat menilai, sikap diam Suu Kyi tersebut dikarenakan dirinya tak ingin membuat para pemilih Myanmar membenci dirinya menjelang pemilihan umum yang akan digelar November mendatang.

Menurut Dalai Lama, Suu Kyi harus buka suara. Dikatakan Dalai Lama, sejak kekerasan sektarian mematikan pada tahun 2012, dirinya sudah dua kali meminta Suu Kyi secara langsung untuk berbuat lebih banyak terhadap warga Rohingya. Kekerasan sektarian di negara bagian Rakhine, Myanmar tersebut melibatkan warga Rohingya dan warga Buddha setempat.

“Ini sangat menyedihkan. Dalam kasus Burma (Myanmar), saya harap Aung San Suu Kyi, sebagai pemenang Nobel, bisa melakukan sesuatu,” ujar Dalai Lama dalam wawancara dengan surat kabar The Australian seperti dilansir AFP, Kamis (28/5/2015).

“Saya bertemu dengannya dua kali, pertama di London dan kemudian di Republik Ceko. Saya menyinggung masalah ini dan dia mengatakan pada saya bahwa dia menemukan beberapa kesulitan, bahwa masalahnya tidak simpel tapi sangat rumit,” tandas Dalai Lama.

“Namun meski begitu, saya rasa dia bisa melakukan sesuatu,” kata Dalai Lama.

Sebelumnya sebuah pertemuan internasional tentang penderitaan muslim Rohingya yang teraniaya di Myanmar bertabur bintang. Di antara undangan adalah tiga pemenang Nobel Perdamaian. Mereka menyerukan kepada dunia untuk lebih peduli dengan tragedi yang mendera kelompok minoritas tersebut.

Di tengah konferensi yang membahas nasib warga Myanmar itu, pemenang Nobel dan sesama ikon pro-demokrasi Aung San Suu Kyi tidak akan berada di antara para pemenang Nobel tersebut. Kantor berita AP, Selasa, 26 Mei 2015, mengatakan, Suu Kyi, pegiat hak asasi manusia dari Myanmar tidak diundang.

Selama 15 tahun dalam tahanan rumah, Suu Kyi memenangkan kekaguman dan simpati orang di seluruh dunia dengan pidatonya yang berapi-api. Ia pun kerap melancarkan kritik yang memerahkan telinga rezim militer yang memerintah Myanmar, atau Burma, sebutan negara ini saat itu.

Anak-anak muslim etnis Rohingya di sekolah darurat di kamp pengungsi di Sittwe, Myamar, 21 Mei 2015. Angkatan laut Myanmar membebaskan 200 etnis Rohingya yang menjadi korban perdagangan manusia. REUTERS/Soe Zeya Tun

Setelah pembebasannya pada 2010, ketika para jenderal berkuasa menyerahkan wewenangnya kepada pemerintah sipil, Suu Kyi memenangkan kursi di parlemen. Perempuan 69 tahun itu mengaku dia politikus. Suu Kyi berkukuh bahwa dia tidak pernah berusaha untuk menjadi juara pembela hak asasi manusia.

Para kritikus mencatat Suu Kyi berhati-hati memilih medan pertempurannya. Sebagian kritikus lagi mengatakan, sikap kehati-hatian itu muncul lantaran Suu Kyi, pemenang Nobel Perdamaian pada 1991, memiliki ambisi besar menjadi presiden jika memenangkan pemilihan umum November 2015.

Di sebuah negara yang mayoritas beragama Buddha dari 53 juta penduduknya, tempat merebaknya permusuhan terhadap muslim Rohingya yang minoritas dengan 1,3 juta jiw, Suu Kyi (dibaca “suu chee”) memilih untuk tetap diam, bahkan ketika dunia menyaksikan penderitaan lebih dari 3.000 orang yang kelaparan.

Warga Rohingya yang melarikan diri dari tempatnya itu menyewa kapal-kapal dan perahu milik pedagang manusia itu. Mereka memilih mengarungi Laut Andaman sembari menderita dehidrasi yang akhirnya terdampar di Malaysia, Indonesia, dan Thailand sepanjang bulan ini. Demikian menurut laporan badan pengungsi PBB. (*)

Komentar

Komentar

Check Also

Di Puncak Gunung Fuji, Para Pendaki Bisa Dapat Sinyal Wifi

bidik.co – Para pendaki Gunung Fuji kini tak usah risau bakal “kehilangan kontak” dengan kawan-kawan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.