Bidik.co — Kendal— Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar! Karenanya, perlu dilakukan penguatan nilai-nilai kebangsaan dari berbagai lini. Lini untuk penguatan nilai-nilai kebangsaan, di antaranya dengan menekankan pada prinsip tepo seliro dan kekeluargaan. Lini itu sebagai bagian tak terpisahkan dari semangat Bhinneka Tunggal Ika.
“Saya berkeyakinan bahwa untuk membangun Indonesia dengan menjadikan bangsa yang kuat, diperlukan kerja keras, melakukan penguatan masyarakat Indonesia dengan nilai-nilai kebangsaan. Sedangkan nilai-nilai kebangsaan itu dapat dipetik di antaranya dari perilaku tradisi masyarakat Jawa yang bersikap tepo sliro dan sikap kekeluargaan,” tutur Anggota MPR RI, dari Fraksi Partai GERINDRA, Jamal Mirdad.
Tepo seliro, lanjut Jamal, dapat diartikan sebagai tenggang rasa atau mempertimbangkan perasaan orang lain. Ini adalah sikap untuk menempatkan diri pada posisi orang lain, memahami perasaan, dan sudut pandang mereka. “Juga kekeluargaan, merupakan suatu kondisi atau hubungan yang erat, akrab, dan penuh kasih sayang seperti dalam sebuah keluarga yang dalam hal ini merupakan lingkungan sosial,” jelas Jamal.
Pernyataan Jamal ini disampaikan dalam sosialisasi Hasil-hasil Keputusan MPR RI di Gedung Aula Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal, Rabu 30 Juli 2025, dihadiri oleh tokoh masyarakat, pemuka agama, perwakilan pemuda dan masyarakat dari beberapa desa di Kecamatan Ngampel. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya MPR RI untuk merevitalisasi nilai-nilai luhur bangsa yang terkandung dalam Ketetapan MPR mengenai Pembangunan Karakter Kebangsaan.
Dalam sambutannya, Jamal juga menyatakan bahwa menjelang delapan dekade kemerdekaan, Bangsa Indonesia dihadapkan pada tantangan globalisasi, polarisasi sosial, serta ancaman terhadap persatuan nasional.
“Tepo seliro adalah wujud toleransi dalam praktik sehari-hari. Ia menuntun kita untuk memahami dan menghormati perbedaan. Sementara semangat kekeluargaan mengikat kita dalam kebersamaan yang menjadi kekuatan bangsa,” ujar pelantum lagu “Hati Selembut Salju” ini.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kedua nilai tersebut merupakan pondasi hidup berbangsa yang selaras dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yaitu berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, tepo seliro bukan sekadar norma kultural, tetapi menjadi panduan etika sosial dalam merawat harmoni dan keadilan.
“Indonesia adalah negara yang kaya akan keberagaman. Toleransi merupakan alat yang sangat penting untuk mengelola kebergaman ini, sehingga perbedaan tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan kekayaan bangsa. Setiap individu harus bisa saling menghargai, merasa diterima, dan dihargai meskipun memiliki perbedaan,” ujar Anggota Komisi VII DPR RI, yang membidangi masalah perindustrian, UMKM, ekonomi kreatif, pariwisata dan sarana publikasi ini.
Toleransi bagi Jamal, sangat penting untuk mewujudkan persatuan bangsa, terutama di negara yang memiliki keberagaman seperti Indonesia. Dengan saling menghargai dan menghormati perbedaan, baik itu suku, agama, ras, maupun budaya, masyarakat dapat hidup rukun dan harmonis. “Toleransi dapat menjadi kunci untuk mencegah konflik dan perpecahan, serta memperkuat rasa persatuan dan kesatuan bangsa,” tegasnya!
Acara sosialisasi ini juga menampilkan dialog kebangsaan yang menghadirkan narasumber Camat Ngampel, yang kemudian berdiskusi mengenai praktik tepo seliro dalam kehidupan masyarakat terutama di Kabupaten Kendal.
Melalui kegiatan ini, Jamal Mirdad mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak hanya menghafal semboyan Bhinneka Tunggal Ika, tetapi benar-benar mengamalkannya dalam tindakan nyata: menjaga persatuan dengan saling memahami, mengedepankan musyawarah, dan menghilangkan ego sektoral demi Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur. (gha/may)
BIDIK.co Terbaik untuk Masyarakat

Website & Logo Maker