Home / Pendidikan / Sri Meliyana: Guru Jadi Kunci Tanamkan Nasionalisme

Sri Meliyana: Guru Jadi Kunci Tanamkan Nasionalisme

bidik.co — Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Sri Meliyana mengatakan, semakin memudarnya jiwa dan semangat nasionalis yang ada pada siswa, menjadi tanggung jawab guru untuk melakukan penanaman kembali nilai-nilai tersebut.

“Terkait dengan telah memudarnya jiwa dan semangat nasionalisme yang ada pada siswa, dan kurangnya perhatiannya para peserta didik terhadap pelajaran-pelajaran yang memberikan nilai nasionalisme, seperti pelajaran kewarganegaraan (PKN), menjadi tanggung jawab guru. Karena itu, guru menjadi kunci untuk menanamkan kembali nilai-nilai nasionalisme,” kata Sri Meliyana dalam acara Sosialisasi Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ikha di Lahat.

Selanjutnya Anggota MPR RI dari Fraksi Partai GERINDRA tersebut mengakui bahwa hal ini merupakan kondisi faktual yang cukup memprihatinkan dan tidak dapat dianggap sebagai masalah biasa. Karena itu, perlu adanya pembinaan yang lebih intensif dengan melihat kondisi yang lebih real kepada para siswa tersebut agar jiwa dan semangat nasionalis bangkit kembali.

“Tentunya para pihak terkait harus memandang hal ini sebagai masalah bersama, yang harus segera dicari solusi untuk menemukan jalan keluar yang tepat, agar permasalahan ini dapat ditanggulangi dan diantisipasi dengan baik,” tutur Anggota Komisi X DPR RI ini.

Meliyana juga menyadari bahwa dengan masih rendahnya minat para siswa terhadap mata pelajaran yang berkaitan dengan materi pembangkit semangat dan jiwa nasionalisme tersebut, khususnya pada siswa-siswi di tingkat akhir yang akan melaksanakan ujian akhir, semua pihak harus mau mawas diri dan mau melihat ke belakang.

“Saat ini para siswa umumnya lebih fokus kepada mata pelajaran yang diujikan; melihat realitas ini tentu kita harus melihat pada masa lalu, pada masa Orde Baru, di mana mata pelajaran tersebut masuk dalam pelajaran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pencasila (P4). Pada masa itu, pelajaran P4 wajib dijalani dan menjadi orientasi utama bagi para siswa, sehingga tidak ada alasan bagi para siswa untuk tidak memberi skala prioritas kepada mata pelajaran tersebut, bagi para siswa- siswi di tingkat manapun,” tutur Meliyana.

Oleh karenanya, lanjut Meliyana, dengan membandingkan pengalaman masa lalu dan saat ini, tentu kita harus dapat mengambil sikap yang tegas dan bijak di dalam menyikapi kondisi tersebut. Mana yang baik dari masa lalu maka perlu dipertahankan, sedangkan yang buruk perlu ditinggalkan.

Untuk menyikapi kendurnya nilai-nilai nasionalisme siswa, pejuang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kabupaten Lahat itu memandang guru memegang peran penting untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme tersebut.

“Para guru memegang peranan yang penting dalam memberi pemahaman bagi para siswa untuk tidak memandang sebelah mata pelajaran P4. Pemangku kepentingan pendidikan juga perlu memberi ketegasan agar mata pelajaran tersebut mempunyai arti dan nilai penting bagi para siswa. Konkritnya, dalam hal memasukan mata pelajaran kewarganegaraan sebagai mata pelajaran yang diujikan dan diprioritaskan, bagi semua siswa khususnya yang ada di tingkat akhir,” simpul Meliyana. (*)

Komentar

Komentar

Check Also

Balitbang DPP Golkar: Pembelajaran Sistem Daring Sulit Dilakukan di Wilayah Timur dan Tengah Indonesia

bidik.co — Merebaknya wabah virus corona (Covid-19) berdampak pada banyak sektor, tidak terkecuali sektor pendidikan. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.