Saturday , September 18 2021
Home / Olahraga / Tidak Transparan, FIFA Dituding Sarang Korupsi

Tidak Transparan, FIFA Dituding Sarang Korupsi

bidik.co — Tudingan korupsi sudah bertahun-tahun mengarah ke FIFA. Otoritas sepakbola dunia itu dikenal tidak transparan dalam banyak hal, yang membuatnya berulang kali dapat sorotan dari Transparency International.

Kasus korupsi terbaru dan juga terbesar yang diduga terjadi di FIFA adalah terkait proses pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022. Sorotan terbesar datang ke Qatar mengingat negara tersebut dianggap belum pantas menggelar Piala Dunia lantaran iklim yang terlalu panas, tidak punya sejarah besar di sepakbola dunia dan dituding menjadi salah satu negara yang masih melangar hak asasi manusia.

Beberapa media Inggris juga menyebut kalau Mohammed bin Hammam, yang menjadi tim sukses Qatar, menawarkan uang US$ 1,5 juta untuk beberapa perwakilan Afrika untuk memberikan suaranya pada mereka.

Internal FIFA sudah melakukan penyelidikan terhadap tudingan tersebut. Namun hasilnya tidak pernah diungkapkan secara utuh, dan sejauh ini cuma kesimpulannya yang publikasikan.

Soal transparansi, FIFA selama ini memang dikenal punya nilai sangat buruk.

NYTimes menyebut kalau besarnya gaji para eksekutif FIFA bahkan tidak pernah dipublikasikan, juga alokasi dana yang digunakan dalam internal organisasi. Padahal sejak 2011 sampai 2014 organisasi tersebut mengeruk keuntungan sampai US$ 5,7 miliar.

Sementara itu pembicaraan soal beragam kebijakan juga kerap diambil tanpa perdebatan atau penjelasan. Sementara sekelompok kecil orang yang masuk dalam Komite Eksekutif dinilai punya wewenang yang luar biasa besar.

Alexandra Wrage, seorang konsultan pemerintahan yang pernah berupaya menggulirkan perubahan di FIFA, menjuluki organisasi tersebut sebagai ‘Bizantium (Kekaisaran Romawi Timur)’, dan ‘tidak bisa ditembus’.

Soal transparansi, FIFA sudah sejak lama dikenal sangat tertutup. Transparency International – sebuah LSM yang memonitor dan mempublikasi laporan korupsi di korporasi dan pemerintahan – sudah berulang kali memberikan catatan negatif pada organisasi pimpinan Sepp Blater tersebut.

Dalam publikasinya pada 2014 lalu, Transparansi Internasional memberikan beberapa catatan pada FIFA demi membuat organisasi itu lebih terbuka. Catatan yang diberikan pada FIFA ketika itu adalah:

Pertama, Mempublikasi sepenuhnya hasil investigasi terkait tuduhan suap pada pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022.

Kedua, Pembatasan masa jabatan pada pejabat senior
Transparency International menyarankan FIFA mulai memberlakukan:
a. Maksimal dua periode menduduki jabatan, termasuk untuk posisi Komite Eksekutif dan Komite Keuangan (Sepp Blatter sudah sejak 1998 menduduki kursi nomor satu di FIFA dan dijagokan menang lagi untuk kali kelima).
b. Pemilihan yang transparan dan fair serta melalui proses yang jelas.
c. Membentuk Komite Eksekutif dan komite-komite lain dengan komposisi anggota yang lebih beragam.
d. Memunculkan direktur non eksekutif (di posisi eksternal) dalam Komite Eksekutif, Komite Keuangan dan bagian penting lain.

Ketiga, Memperkenalkan posisi pejabat independent senior di berbagai federasi di seluruh dunia.

Transparency International juga sudah mendesak sponsor-sponsor utama FIFA untuk menuntut dilakukannya transparansi. Hasilnya, sebelum Piala Dunia lalu Sony, Adidas, Hyundai-Kia dan Coca-Cola sudah menuntut penjelasan terkait tudingan korupsi dalam pemilihan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia.

Namun begitu, Transparency International juga mengaku kalau mengubah FIFA bukan pekerjaan mudah. Meski banyak kritik datang, mayoritas dari 209 anggota FIFA masih memberikan dukungan pada Blatter untuk kembali berkuasa. (*)

Komentar

Komentar

Check Also

Neymar Ingin Kalahkan Kiper Jagoannya di PlayStation

bidik.co – Neymar bertekad mengalahkan kiper favoritnya di PlayStation Gianluigi Buffon. Menurut Neymar, Buffon salah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.