Home / Internasional / Cak Nun Nilai ISIS Sebagai Rekayasa

Cak Nun Nilai ISIS Sebagai Rekayasa

bidik.co — Budayawan Emha Ainun Najib, atau lebih dikenal dengan sebutan Cak Nun mengatakan gerakan radikal ISIS merupakan rekayasa dalam upaya untuk menguasai Timur Tengah.

“Semua itu rekayasa, ada yang membikin dan tidak mungkin gerakan itu menjadi ‘main stream’, karena apa mungkin orang sedunia menjadi ISIS semua,” katanya di Temanggung, Jumat (3/4/2015) malam.

Ia mengatakan hal tersebut usai pentas bersama Kiai Kanjeng di Alun-Alun Temanggung dalam acara “Sinau Kedaulatan Bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng” yang diselenggarakan Pemkab Temanggung bersama Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Temanggung.

Ia menuturkan yang mereka bunuh itu bukan orang kafir, tetapi yang mereka bunuh itu sesama orang Islam.

“Gerakan itu merupakan program permanen memecah belah Timur Tengah atau memecah belah Islam, sehingga mereka rapuh,” kata budayawan yang juga dipanggil Kiai ini.

Kalau sudah rapuh, katanya, maka diambil minyaknya seperti Irak. “Suriah ini sulit diambil maka dibuatlah ISIS, jadi itu hanya orang merampok, sama dengan Indonesia hanya dirampok.”

Acara “Sinau Kedaulatan Bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng” dihadiri ribuan warga Temanggung, khususnya para petani tembakau.

Panitia “Sinau Kedaulatan Bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng” Agus Setiawan menuturkan Cak Nun merupakan sosok yang memiliki perhatian serius terhadap kedaulatan, baik kedaulatan bangsa maupun kedaulatan individu.

“Acara ini untuk belajar kedaulatan secara lebih luas dan mendalam sekaligus sekaligus bermujahadah menyambut masa tanam tembakau,” katanya.

Ia mengharapkan melalui kegiatan ini pemahaman masyarakat tentang kedaulatan semakin kuat.

“Sektor budidaya tembakau yang menjadi sumber kehidupan warga Temanggung sedang disudutkan dengan isu-isu kesehatan yang diimpor dari luar. Peraturan yang dikeluarkan pemerintah semakin memberikan berbagai batasan bagi berkembangnya sektor budidaya tembakau,” katanya.

Hal senada sebelumnya juga disampaikan oleh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) yang menyatakan isu ISIS di indonesia penuh dengan rekayasa. DDII menyatakan banyak fakta di lapangan menunjukkan keganjilan yang ada.

Ketua DDII, Ustaz Syuhada Bahri menyatakan beberapa keanehan tampak langsung menimpa dirinya. Saat itu, kata dia, masjid Muhajirin yang terletak di depan rumahnya dituduh sebagai tempat deklarasi ISIS.

“Dibilangnya tanggal 3 Agustus 2014 lalu ada deklarasi ISIS di situ. Sampai wartawan dari Belanda datang untuk meliput,” ujar dia, Selasa (31/3/2015).

Syuhada menganalisis kalau isu ISIS ini tujuannya untuk mendiskreditkan citra umat Islam di Indonesia. Soalnya dengan merebak isu ini di Indonesia, publik akan semakin antipati dengan Islam. “Ujung-ujungnya Islam di Indonesia seamkin terpinggirkan,” kata dia.

Isu ISIS menjadi hangat di Indonesia setelah adanya upaya 16 orang WNI Indonesia hendak berangkat ke Suriah. Ke 16 orang ini masuk melalui perbatasan Turki dan Suriah. Selain itu baru baru ini juga terjadi penangkapan orang diduga terlibat ISIS di berbagai tempat di Indonesia.

Mereka yang ditangkap antara lain Koswara dan Furqon di Tambun, Bekasi, serta Amin Mude di Perumahan Legenda Wisata, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor. Sedangkan Aprimul Hendri ditangkap di Petukangan, Jakarta Selatan, dan Tuah Febriwansyah bin Arif Hasruddin alias Fahri di Pamulang, Tangerang Selatan.

Sementara Pengamat politik internasional Asrudin Azwar menengarai Negara Islam Irak dan Suriah dijadikan jalan pintas kelompok-kelompok di Tanah Air yang ingin mendirikan Negara Islam Indonesia.

“Di Indonesia ada gerakan Islam fundamentalis yang menginginkan berdirinya negara Islam misal HTI dan NII. Bisa jadi anggota HTI dan NII ingin cepat mewujudkan negara Islam, dan mereka melihat ada harapan mendirikan negara Islam melalui ISIS,” kata Asrudin Azwar dalam diskusi bertajuk “Meningkatkan Ketahanan Nasional Dalam Menangkal Bahaya ISIS” di Jakarta, Selasa (31/3/2015).

Menurut Asrudin, kelompok pendukung ISIS di Indonesia melihat ada momentum bergabung dengan kelompok ISIS di Irak dan Suriah, agar cita-cita mendirikan negara Islam cepat terwujud. “Apalagi ada berita simpatisan ISIS diimingi uang besar jika mau berjuang di sana,” jelas dia.

Selain itu Asrudin menilai tumbuhnya kelompok pendukung ISIS di tanah air lantaran absennya peran negara, dalam menyikapi akumulasi gerakan radikalisme yang pernah terjadi sebelumnya. (*)

Komentar

Komentar

Check Also

KPK Tak Ingin Ada Konflik Kepentingan dalam Penunjukkan Direktur BUMN

bidik.co — Pengelolaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) perlu dilaksanakan secara professional. Hal itu dilakukan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.