Home / Politik / Hadar Gumay Merasa Difitnah, Jimly Anggap Melanggar Etika

Hadar Gumay Merasa Difitnah, Jimly Anggap Melanggar Etika

bidik.co — Sidang Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu yang diketuai Jimly Asshiddiqie menyinggung pertemuan antara anggota Komisi Pemilihan Umum Hadar Nafis Gumay dan Ketua DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Trimedya Panjaitan. Hadar diduga melakukan pelanggaran kode etik terkait pertemuan tersebut.

Hal tersebut diadukan oleh anggota Tim Aliansi Advokat Merah Putih, Eggy Sudjana, dalam sidang kedua DKPP di kantor Kementerian Agama, Jakarta, Senin (11/8/2014). Dia menilai pertemuan tersebut melanggar kode etik karena Hadar membocorkan materi debat calon presiden kepada pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor 2, Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Hadar menggunakan kesempatan sebagai pihak teradu di sidang itu untuk memberikan penjelasan di hadapan majelis hakim DKPP. Dia mengklarifikasi bahwa pertemuan antara dirinya dan Trimedya di Restoran Khas Senayan, Menteng, Jakarta Pusat, terjadi secara tidak sengaja.

“Persoalan saya dituduh bertemu dengan salah satu pihak tim kampanye dan (Kepala Lembaga Pendidikan Kepolisian) Komjen (Pol) Budi (Gunawan) yang terjadi adalah pertemuan yang sama sekali tidak direncanakan,” kata Hadar.

Dia mengatakan, dirinya sama sekali tidak membocorkan materi debat capres seperti yang diadukan Eggy. Dia juga mengaku tidak mengenal Budi Gunawan dan baru mengetahui bahwa petinggi Polri itu setelah melihat wajahnya di media massa. “Itu tuduhan yang tidak berdasar, bahkan cenderung fitnah,” kata Hadar.

Menanggapi hal tersebut, Ketua DKPP Jimly Asshiddiqie mengatakan, bertolak belakang dengan hukum yang kaku, persoalan etika memang masuk dalam ranah yang abstrak. Dia pun mengilustrasikan seorang pejabat yang tersenyum bisa saja disebut melanggar etika.

“Kalau dia senyum di waktu dan tempat yang salah, bisa saja dia disebut melanggar etika. Etika itu bisa diinterpretasikan macam-macam,” ucap Jimly.

Sebelumnya telah beredar kabar bahwa Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Hadar Nafis Gumay sengaja bertemu dengan anggota tim sukses capres Jokowi-JK, yakni Trimedya Panjaitan serta seorang petinggi Polri di Sate House Senayan, beberapa waktu lalu, untuk membocorkan materi debat capres, kini semakin tak menentu dan mengkhawatirkan serta mengundang kecurigaan publik.

Untuk itu, Pengamat Politik Lembaga Kajian dan Study Politik Nusantara, Irvan Hakim Nasution, menyarankan agar Komisioner KPU, Hadar Gumay, segera menemui Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) dan meminta diperiksa untuk mengklarifikasi tuduhan itu.

Hal ini katanya bisa lebih meyakinkan publik dan masyarakat jika memang benar KPU benat-benar netral, dibandingkan jika Hadar hanya mengklarifikasi tuduhan itu melalui pernyataannya di media massa.

“Atau bisa juga DKPP yang memanggil komisioner KPU itu, untuk melakukan klarifikasi terkait pertemuan tersebut dan dugaan bocornya pertanyaan debat capres-cawapres,” kata Irvan, Jumat (13/6/2014) malam.

Seperti diketahui kini beredar posting foto dan video persiapan debat pasangan capres Joko Widodo-Jusuf Kalla di jejaring media sosial.

Foto tersebut semakin menegaskan adanya isu materi debat capres yang dibocorkan Komisioner KPU Hadar Gumay saat bertemu dengan anggota tim sukses Jokowi-JK, Trimedya Panjaitan, di Sate Khas Senayan, beberapa waktu lalu.

Irvan mengatakan KPU sebagai penyelenggara pemilu wajib netral termasuk TNI dan Polri. Karenanya lembaga ini dituntut tetap konsisten menjaga netralitas, dan harus hati-hati dan lebih peka atau lebih sensitif saat melakukan komunikasi dan aktivitas sosial di tengah masyarakat.

“Sebaiknya penyelenggara pemilu dan aparat pemerintah seperti TNI dan Polri harus berhati-hati dan lebih sensitif dalam suasana pemilu ini. Terutama saat melakukan komunikasi publik,” kata Irvan.

Ia juga meminta para tim sukses pasangan capres dan cawapres supaya tidak mencari-cari jalan memanfaatkan kesempatan terutama penyelenggara pemilu dan aparat pemerintah dalam upaya memenangkan calon mereka.

“Timses harus mampu menjaga netralitas aparat pemerintah dan penyelenggara pemilu. Jangan mencari-cari jalan dan mempengaruhi peran mereka,” kata Irvan.

Isu bocornya materi debat setelah FX Arif Poyuono, aktifis Serikat Pekerja BUMN memergoki anggota KPU, Hadar Nafis Gumay, bertemu dan berbincang-bincang dengan Budi Gunawan, Komisaris Jenderal Polisi serta bersama Ketua DPP PDIP, Trimedya Panjaitan yang juga anggota timses Jokowi-JK, beberapa waktu lalu di Sate House Senayan.

Arif lalu melaporkan temuannya ke Bawaslu, Minggu (11/6/2014).

Kepada Bawaslu, Arif menduga pertemuan itu membicarakan bocoran materi debat capres, karena momen pertemuan adalah sehari sebelum debat berlangsung.

Trimedya sendiri saat itu membantah tudingan dirinya sengaja bertemu dengan Hadar dan petinggi Polri di sana. Menurutnya pertemuan mereka tidak disengaja, karena saat itu, Trimedya mengaku membicarakan masalah kegiatan keagamaan di gereja dengan sejumlah anggota gereja lainnya.

Trimedya mengaku sempat mencurigai adanya seseorang yang memerhatikan gerak-geriknya. Bahkan, ia merasa ada cahaya kamera. Namun, Trimedya tidak mengacuhkannya karena menurut dia, pertemuan itu hanyalah pertemuan biasa.

Menurutnya isu yang ditebarkan Arif tidak perlu ditanggapi. Sebab isu bertujuan untuk menghantam institusi Polri, KPU dan pasangan capres Jokowi-JK bersama timsesnya.(ai)

Komentar

Komentar

Check Also

Masih Ada Yang Mendukung, MPR Tolak Tuntutan PA 212 Bubarkan BPIP

bidik.co — Banyaknya aspirasi dari masyarakat yang masih mendukung keberadaan BPIP, Wakil Ketua MPR RI …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.