Home / Analisis / Menyoal Hari Kebangkitan Nasional

Menyoal Hari Kebangkitan Nasional

Oleh: Agus Ismanto

bidik.co — Tujuh puluh dua tahun lalu, 20 Mei 1948, Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno di Istana Kepresidenan Yogyakarta berpidato tanpa teks “memperingati 40 tahun Hari Kebangkitan Nasional”.

Pidato yang disimpulkan oleh yang hadir pada saat itu, Sukarno menyatakan bahwa meskipun kita sudah merdeka, namun bahaya tetap mengancam Republik dari segala penjuru.

“Tetapi kita tidak perlu khawatir, akhirnya insya Allah kitalah yang menang, asal kita memenuhi beberapa syarat yang perlu untuk kemenangan itu… yaitu menyusun machtspolitik, yakni kekuatan massa untuk mendukung perjuangan politik; dan menggalang persatuan nasional,” kata Sukarno, sebagaimana dimuat dalam “Dari Kebangunan Nasional sampai Proklamasi Kemerdekaan, Kenang-kenangan Ki Hadjar Dewantara”.

Nampaknya pidato itulah yang menjadi cikal bakal ditetapkannya tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional melalui Keppres No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959.

Dipersoalkan

Penetapan Hari Kebangkitan Nasional yang sudah dipatenkan selama puluhan tahun tersebut mulai dikaji kembali. Beberapa sejarawan memperdebatkan masalah ini. Sejarawan Taufik Abdullah mengatakan, bahwa Hari Kebangkitan Nasional adalah sebuah peristiwa yang sengaja dilebih-lebihkan.

Boedi Oetomo yang tak lebih dari sekadar organisasi himpunan kesukuan Jawa –yang kemudian berubah menjadi organisasi konservatif khusus priyayi– hanya berfokus pada aspek sosial dan kebudayaan.

Dengan demikian Boedi Oetomo tidak mencerminkan cita-cita menuju Indonesia merdeka secara nyata. Jika dibandingkan dengan Sarekat Islam yang memperjuangkan nasib rakyat pribumi menengah ke bawah, maka Boedi Oetomo hanya memperjuangkan golongan tertentu.

Sedangkan sejarawan Rushdy Husein memiliki pendapat lain. Walaupun Boedi Oetomo tidak menyiratkan cita-cita kemerdekaan Indonesia, namun dari Boedi Oetomo-lah melahirkan berbagai organisasi pergerakan Indonesia dari berbagai ideologi dan tujuan demi tercapainya kemerdekaan Indonesia.

Peristiwa didirikannya Boedi Oetomo oleh sejumlah mahasiswa kedokteran Stovia pada 20 Mei 1908 merupakan peristiwa penting perjuangan kebangsaan, masa depan Indonesia dan secara tersamar “kemerdekaan Indonesia.”

Tanpa mempersoalkan berlanjutnya organisasi Boedi Oetomo yang kemudian melangsungkan kongresnya yang pertama tanggal 3-5 Oktober 1908 di Yogyakarta, di mana nyata-nyata organisasi ini berbelok menjadi organisasi dengan kepentingan lain.

Ternyata Boedi Oetomo 20 Mei 1908 mempunyai hubungan benang merah dengan peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Selain itu, pasca proklamasi kemerdekaan, Republik yang masih belia dalam keadaan bahaya. Belanda dengan membonceng Sekutu kembali mendirikan pemerintahannya dan melancarkan agresi militer pertama pada 1947. Banyak wilayah Indonesia didudukinya, termasuk ibukota Jakarta sehingga pemerintahan hijrah ke Yogyakarta. Belanda juga mensponsori pembentukan negara-negara boneka untuk melawan legitimasi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam keadaan menghadapi kembali kolonialisme Belanda, Pemerintah juga dirongrong oleh oposisi yang digalang mantan Perdana Menteri Amir Sjarifuddin dengan membentuk Front Demokrasi Rakyat (FDR), gabungan partai dan organisasi sayap kiri: Partai Sosialis, Partai Komunis Indonesia, Pesindo, Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia, dan Barisan Tani Indonesia.

Sedangkan sejarawan lain yang saat ini menjabat sebagai Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI, Hilmar Farid menilai, penentuan Hari Kebangkitan Nasional terkait dengan politik historiografi atau politik penulisan sejarah dari pemerintah, bukan sejarah itu sendiri.

Pemerintah memerlukan sebuah organisasi yang mewakili kepentingan nasional karena saat itu terjadi krisis politik internal yang sangat serius, ditambah lagi agresi militer Belanda. Selain itu, ada kebutuhan untuk memberi legitimasi historis pada perjuangan melawan kolonialisme dengan menelusuri asal-usul atau akar perjuangan tersebut.

Kelompok-kelompok politik dominan pada masa itu semuanya memegang senjata dengan tafsirnya sendiri-sendiri kemana arah Republik harus dibawa. Sehingga muncul persoalan yang sangat serius.

Pemerintahan pun berpikir harus mencari unsur pemersatu sehingga orang tidak mencari relnya sendiri-sendiri. Pemilihan Boedi Oetomo sebagai unsur pemersatu harus dipahami secara politik dan simbolik, bukan secara akademik tentang makna dari organisasi itu.

Boedi Oetomo dipilih karena ia organisasi yang paling moderat, nasionalis, jalan tengah, dan yang paling penting tidak berhasil secara politik. Karena jika berhasil secara politik, orang akan melacak asal usul dirinya kepada organisasi ini; hal inilah yang tidak dimungkinkan.

Perhimpunan Indonesia

Mengungkap sejarah pergerakan Indonesia, kalangan sejarawan juga mengingatkan perlunya memperhatikan tiga tahun sebelum Sumpah Pemuda 1928, ketika para pelajar Indonesia di Belanda menerbitkan Manifesto 1925.

Anak-anak muda yang bergelora! Dalam setelan jas Barat, dagu mereka sedikit terangkat dengan pandangan mata tajam dan serius. Bukan semata-mata kesombongan namun ini soal harga diri. Kesadaran bahwa mereka bagian dari sebuah bangsa yang baru lahir. Selembar foto tua pertengahan 1920-an menggambarkan suasana itu. Gunawan Mangunkusumo, Moh. Hatta, Iwa Kusumasumantri, Sastro Mulyono, dan Sartono adalah mereka yang memulai Indonesia di usia yang sangat muda.

Adalah PI (Perhimpunan Indonesia), salah satu kelompok organisasi pemuda yang turut mewarnai sejarah pergerakan nasional Indonesia. Sejarah dan eksistensi PI penting untuk dibicarakan. Tidak saja karena organisasi ini merupakan pelopor gerakan radikalisme di kalangan pemuda dengan semboyan terkenal mereka “Indonesia merdeka, Sekarang!” tetapi juga keberanian mereka mengubah konsepsi Indonesia.

Tidak lagi sebagai ikatan geografis maupun antropologis untuk menyebut suatu wilayah kekuasaan Belanda yang terkenal dengan rempah-rempahnya. Hindia Belanda atau yang kemudian berubah nama menjadi Indonesia, oleh PI, telah diubah menjadi suatu konsepsi politik. Sayangnya, PI cenderung dilupakan dari memori kolektif bangsa Indonesia.

Taufik Abdullah mengungkapkan konsepsi manifesto politik cenderung dianggap sebagai mitos bangsa. Kecenderungan, berbicara tentang pergerakan pemuda ataupun nasionalisme serta persatuan dan kesatuan bangsa adalah berbicara tentang tentang Sumpah Pemuda 1928. Sama sekali tidak menyinggung PI yang jelas-jelas menjadikan “Indonesia” tidak lagi sebagai sebatas pengakuan fundamental –bangsa itu sesungguhnya masih dalam pembentukkan– melainkan sudah menjadi realitas nyata.

Senada dengan Taufik, sejarawan Ahmad Syafii Maarif dan Sartono Kartodirdjo mengungkapkan bahwa manifesto politiklah yang seharusnya dijadikan sebagai penanda Kebangkitan Nasional Indonesia.

Asas-asas Perhimpunan Indonesia yang disebut juga Manifesto Politik 1925 ialah fundamen dari Sumpah Pemuda 1928. Dalam manifesto tersebut termuat; pertama, perjuangan memperoleh kemerdekaan Indonesia; kedua, pemerintahan yang dikelola oleh bangsa sendiri atas pilihan sendiri; ketiga, kesatuan bangsa sebagai syarat utama perjuangan; dan keempat, menolak bantuan dari penjajah maupun pihak lain.

Tentu saja tulisan ini tidak bermaksud untuk menggugat jalannya sejarah bangsa, tetapi sekadar untuk mengingatkan kembali mengenai peran penting organisasi-organisasi lain dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia.

Jika melihat latar belakang ditetapkannya 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional dan Boedi Oetomo dipilih secara politik sebagai organisasi yang menjadi simbol kebangkitan dan persatuan, dengan melihat kondisi Republik yang menghadapi krisis politik yang mengarah ke perpecahan, maka sebenarnya penetapan tersebut belumlah menunjukkan sebagai realitas sejarah pergerakan nasional yang sesungguhnya. (*)

(Penulis adalah Pemerhati dan Penikmat Sejarah)

Komentar

Komentar

Check Also

Peta Kekuatan Dua Koalisi dalam Pemilihan Pimpinan MPR

bidik.co — Jika tak ada perubahan mendasar, pemilihan pimpinan MPR dalam sidang paripurna, Selasa (7/10/2014), …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.