Home / Politik / Minggu Pagi, Gunung Sinabung Meletus Lagi

Minggu Pagi, Gunung Sinabung Meletus Lagi

bidik.co — Telah diperkirakan beberapa waktu yang lalu, Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kembali meletus pada Minggu pagi (4/1/2015).

Demikian diinformasikan Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPNB), Sutopo Purwo Nugroho melalui akun twitternya @Sutopo_BNPB, sesaat lalu.

“Potensi erupsi susulan masih sangat tinggi,” twit Sutopo.

Sutopo meminta masyarakat untuk tetap menjauhi daerah luncuran awan panas.

Kemarin pagi (Sabtu, 3/1/2015), Gunung Sinabung dilaporkan meletus dengan tinggi kolom mencapai tiga kilometer yang disertai awan panas empat km ke selatan. Jumlah pengungsi tiadak ada penambahan. Menurut Sutopo, warga sudah terbiasa dengan letusan sejak September 2013 yang berlangsung hingga saat ini.

Sebelumnya diperkirakan, letusan Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, akan terus berlangsung, bahkan berpotensi kembali meletus eksplosif.

Gunung yang sebelumnya tidak pernah meletus dalam 1.200 tahun terakhir itu, masih dalam tahap membentuk kubah lava.

“Kalau ditanya sampai kapan letusan Sinabung berlangsung, kami belum tahu. Data pemantauan masih menunjukkan adanya potensi letusan,” kata Hetty Triastuty, penyelidik dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, di Jakarta, Selasa (14/10/2014).

Sebulan terakhir, Gunung Sinabung terus meletus. Seperti sepanjang Selasa pukul 06.00-12.00, teramati dua kali guguran awan panas hingga 1.500-3.000 meter dari puncak ke selatan dan sekitar 2.000 meter ke tenggara. Tinggi kolom abu vulkanik 500-700 meter.

Menurut Hetty, awan panas di Sinabung belakangan ini adalah awan panas jenis guguran karena kubah lava di puncak gunung runtuh. “Selama kubah lava tumbuh, kemungkinan terjadi awan panas atau sekadar guguran bisa saja terjadi,” katanya.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Surono mengatakan, dari laporan kegempaan Gunung Sinabung yang diterima setiap enam jam, teramati gempa vulkanik dangkal terus terjadi. “Bahkan, tak perlu banyak gempa sebenarnya karena saluran magma dalam tubuh Sinabung sudah relatif terbuka sehingga letusan gampang terjadi,” ujarnya.

Selain itu, gempa-gempa frekuensi rendah juga masih terus terekam. “Kondisi ini menunjukkan bahwa fluida (gas, magma, dan uap) masih menuju permukaan. Terbukti pertumbuhan kubah lava masih berlangsung,” katanya.

Menurut Surono, guguran kubah lava yang memicu awan panas terjadi bukan disebabkan gaya berat, melainkan terdesak suplai magma baru. Letusan itu dikenal sebagai efusif karena berasal dari guguran kubah lava yang diikuti awan panas guguran dengan ancaman terbatas pada radius kurang dari 3 kilometer.

Surono menyimpulkan, dengan tingginya kegempaan vulkanik, sangat kecil kemungkinan aktivitas letusan Gunung Sinabung akan terhenti dalam waktu dekat. Bahkan, erupsi yang bersifat eksplosif, bukan efusif sebagaimana kini terjadi, juga masih berpotensi. Sebagai catatan, rangkaian erupsi Sinabung pada akhir tahun 2013 hingga awal 2014 pernah menciptakan kolom asap letusan 10 kilometer.

Aktivitas Sinabung semakin berbahaya saat musim hujan. Pelapukan batuan akibat letusan memperlemah kestabilan lereng utara serta berpotensi terjadinya longsor dan banjir bandang, terutama di daerah lembah. Jika di puncak Sinabung hujan lebat dalam durasi lama, potensi lahar hujan juga harus diantisipasi.

“Semua potensi ancaman bahaya ini sudah dikenali dan disampaikan kepada semua pihak yang berkepentingan menanggulangi bencana,” kata Surono. (*)

 

Komentar

Komentar

Check Also

Masih Ada Yang Mendukung, MPR Tolak Tuntutan PA 212 Bubarkan BPIP

bidik.co — Banyaknya aspirasi dari masyarakat yang masih mendukung keberadaan BPIP, Wakil Ketua MPR RI …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.