Bidik.co — Depok — Munculnya sikap intoleransi, yang tidak menghargai sesama anggota masyarakat, karena telah lunturnya rasa toleransi. Kurangnya pemahaman tentang perbedaan, pengaruh negatif media sosial, isu SARA, yaitu suku, agama, ras, dan antargolongan, yang memicu konflik, serta pergeseran nilai moral akibat globalisasi dan teknologi.
“Tentu saja hal itu akan berujung pada perpecahan dan meningkatnya sikap intoleran seperti prasangka buruk, merendahkan budaya lain, dan bahkan konflik sosial. Solusinya melibatkan pendidikan karakter, dialog antaragama, keteladanan tokoh, serta penegakan hukum yang tegas untuk membangun lingkungan yang lebih inklusif,” ungkap Anggota MPR RI dari Fraksi Partai GERINDRA, Nuroji.
Menurut Nuroji, merawat keberagaman sosial berarti mempraktikkan toleransi, saling menghargai, dan gotong-royong, dengan memahami serta menerima perbedaan suku, agama, ras, dan budaya, serta aktif mempromosikan inklusivitas melalui kegiatan bersama seperti festival budaya atau dialog antarumat beragama, yang semuanya memperkuat persatuan bangsa di bawah semangat Bhinneka Tunggal Ika.
“Praktikkan toleransi, saling menghargai, dan gotong-royong, dengan memahami serta menerima perbedaan suku, agama, ras, dan budaya, sangat peneting dalam upaya merawat keberagaman, karena hal itu akan mampu memperkuat persatuan bangsa di bawah seperti spirit Bhinneka Tunggal Ika,” jelas Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Barat VI ini.
Dalam Sosialisasi Hasil-hasil Keputusan MPR RI di Depok, Senin (15/12/2025) ini, mengangkat tema, “Bhinneka Tunggal Ika: Merawat Keberagaman Dalam Kehidupan Sosial” itu, Nuroji juga menyampaikan bagaimana upaya merawat keberagaman dari masyarakat Indonesia.
Bagi Nuroji, untuk dapat mewujudkan keberagaman sosial, perlu cara untuk merawatnya. Yaitu saling menghormati dan menghargai, dengan menerima perbedaan suku, agama, ras, dan budaya tanpa diskriminasi atau memicu konflik. Memberikan pengertian kepada anak-anak tentang teman yang berbeda agama atau suku agar mereka belajar toleransi.
“Lalu, membangun kebersamaan, dapat dilakukan dengan saling membantu dan bergotong-royong dalam kebaikan, seperti yang diajarkan dalam ajaran agama. Menciptakan acara bersama, seperti festival budaya, untuk mempererat hubungan dan keakraban,” terang Nuroji.
Acara sosialisasi yang dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat tersebut berjalan secara dinamis, banyak pertanyaan yang meluncur terkait dengan praktik toleransi yang terjadi di masyarakat.
Sosialisasi ini diharapkan mampu mendorong tumbuhnya kesadaran kolektif di kalangan masyarakat untuk mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dalam membangun sikap toleransi sosial, sesuai dengan Pancasila sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab, serta sila ketiga, persatuan Indonesia. (ir/is)
BIDIK.co Terbaik untuk Masyarakat

Website & Logo Maker