Home / Hukum / PENETAPAN HARI RAYA IDUL FITRI

PENETAPAN HARI RAYA IDUL FITRI

Oleh: Avecena Mumtaza Ismanto

(Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor)

Idul Fitri merupakan hari raya umat Islam yang jatuh pada tiap tanggal 1 Syawal, setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan. Setiap tahun, penentuan 1 Syawal sebagai tanda Hari Raya Idul Fitri dilakukan Pemerintah Indonesia melalui sidang isbat. Namun demikian penetapan Ramadan atau perayaan Idul Fitri, umat Islam terjadi perbedaan.

Di Indonesia, dua ormas Islam terbesar Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah memiliki prinsip yang berbeda dalam menentukan hari Hari Raya Idul Fitri. Lantas, apa yang menyebabkan perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri? Hal ini bukan tanpa alasan, sebab ada dua metode yang digunakan dalam penentuan awal Ramadhan, yakni metode hisab dan metode rukyat.

Memahami Hisab dan Rukyat

Hisab merupakan metode penghitungan posisi benda langit, khususnya matahari dan bulan. Sementara, rukyat adalah observasi benda-benda langit untuk memverifikasi hasil hisab. Kedua metode tersebut saling menguatkan, bahkan seperti dua sisi mata uang. Hisab dapat diartikan dengan penghitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam menentukan dimulainya awal bulan pada kalender Hijriah. Ada beberapa rujukan atau kitab yang digunakan untuk metode hisab di Indonesia. Metode hisab juga ada yang menggunakan metode kontemporer. Caranya yakni menggunakan rumus-rumus yang ada pada kitab tersebut, seperti bagaimana cara untuk menghitung awal bulan dengan data astronomis yang ada.

Sementara, rukyat adalah aktivitas pengamatan visibilitas hilal (bulan sabit) saat matahari terbenam menjelang awal bulan di Kalender Hijriah. Umumnya, metode rukyat digunakan guna menentukan awal bulan Zulhijah, Ramadhan, dan Syawal. Dalam melakukan pemantauan hilal, Kemenag bekerja sama dengan organisasi masyarakat Islam, pakar Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pakar Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), dan pondok pesantren yang telah melakukan penghitungan di wilayahnya. Penghitungan tersebut dilakukan untuk menghindari terjadinya “salah lihat”. Sebab, jika tinggi hilal berada di bawah 2 atau 4 derajat, maka kemungkinan obyek yang dilihat bukan hilal, melainkan bintang, lampu kapal, atau obyek lainnya. Hilal bisa dilihat dengan ketinggian minimal 2 derajat, elongasi (jarak sudut matahari-bulan) 3 derajat, dan umur minimal 8 jam saat ijtimak.

Pendapat Para Ahli

Mengutip Saudi Gazette, Kamis (20/4/2023), beda pendapat ini akan terjawab setelah prosesi pengamatan hilal dilakukan petang/malam nanti. Jika hilal terlihat jelas dalam cuaca cerah, maka adu argumen berakhir. Media Arab Saudi itu mengatakan, prakiraan astronomi menunjukkan kemungkinan bahwa hari pertama Idul Fitri dan hari pertama Syawal akan jatuh pada hari Jumat, bertepatan dengan 21 April, sehingga Ramadhan tahun ini akan memiliki 29 hari.

Namun fenomena astronomi yang akan terjadi di banyak negara di dunia, yaitu gerhana matahari, dapat menyebabkan terhalangnya penglihatan hilal dengan mata telanjang maupun dengan teleskop. Dalam kasus seperti itu, maka bulan Ramadhan digenapkan 30 hari, sehingga Idul Fitri 1 Syawal akan jatuh hari Sabtu, 22 April.

Mesir. Lembaga Riset Astronomi dan Geofisika Nasional (NRIAG) di Mesir, pada Senin (17/4/2023), melansir, berdasarkan perhitungannya, Idul Fitri akan jatuh pada Jumat, 21 April. Lansiran NRIAG tersebut mengulas bahwa Kamis, 20 April, akan menjadi hari terakhir bulan suci Ramadhan, dan Jumat akan menjadi hari pertama Syawal.

Gad El-Qady, Ketua NRIAG, mengatakan, awal bulan Syawal jatuh pada hari Jumat, 21 April pukul 06.14 pagi waktu Kairo pada hari Kamis. El-Qady mengatakan, hilal berdiam di langit Makkah selama 23 menit dan dan di Kairo selama 27 menit setelah matahari terbenam pada hari itu. Di berbagai wilayah di Mesir, hilal berdiam di langit selama beberapa waktu berkisar antara 24-29 menit. Di kota-kota Arab dan Islam, hilal tetap ada setelah matahari terbenam pada hari itu untuk periode berkisar antara 10-35 menit.

IAC di Abu Dhabi. Pusat Astronomi Internasional (IAC) yang berpusat di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), memiliki pendapat berbeda. Tidak ada kemungkinan untuk melihat hilal Syawal pada Kamis, 29 Ramadhan, dan karenanya Idul Fitri jatuh pada Sabtu, 22 April. Bulan sabit pada Kamis malam sangat sulit dilihat karena membutuhkan teleskop yang tepat, pengamat profesional, dan kondisi cuaca yang luar biasa cerah. Melihat bulan sabit pada hari Kamis tidak mungkin dilakukan dengan mata telanjang dari mana pun di dunia Arab dan Islam.

Melihat bulan sabit pada hari Kamis (juga) tidak mungkin dilakukan dengan teleskop di sebagian besar negara Arab, dengan pengecualian sebagian Afrika Barat mulai dari Libya, dan oleh karena itu hari Sabtu kemungkinan besar akan menjadi hari pertama Idul Fitri.

Untuk bisa menyaksikan hilal pada hari Kamis harus memakai teleskop yang akurat, pengamat yang profesional, dan cuaca cerah yang mendukung. Karena ketiga kombinasi ini jarang ada, maka IAC memprediksi hilal tak terlihat di dunia Arab sehingga Idul Fitri jatuh Sabtu.

Namun, bagi mereka yang kemungkinan bisa melihat bulan sabit dengan teleskop dari beberapa bagian dunia Islam pada hari Kamis, dan karena terjadinya konjugasi sebelum matahari terbenam, dan terbenamnya bulan setelah matahari terbenam, maka akan mengumumkan awal bulan Syawal pada hari Jumat.

Adapun bagi negara-negara yang mensyaratkan penglihatan hilal dengan mata telanjang saja atau penglihatan lokal dengan teropong, maka disarankan menggenapkan Ramadhan menjadi 30 hari.

Arab Saudi. Sementara itu, astronom Arab Saudi Dr. Abdullah Al-Misnid mengatakan, tidak ada yang bisa 100 persen yakin bahwa bulan Ramadhan 1444 akan menjadi 29 hari atau 30 hari, sampai menit pertama matahari terbenam pada tanggal 29 Ramadhan, ketika hasil penampakan bulan sabit/hilal keluar. Dengan demikian, penetapan Idul Fitri tetap ditangguhkan antara Jumat dan Sabtu hingga matahari terbenam pada hari Kamis.

Sementara itu, astronom terkemuka Abdullah Al-Khudairi sekaligus penasihat di observatorium astronomi di Al-Majmaah, menegaskan, faktor cuaca cerah adalah yang akan menyelesaikan kontroversi melihat bulan sabit Syawal pada hari Kamis.

Al-Khudairi menjelaskan, penampakan bulan sabit setelah matahari terbenam akan berpengaruh, dan semakin lama bulan sabit bertahan, semakin mudah untuk melihat ketika cuaca cerah. Kadang-kadang bulan sabit berdiam lama di langit, tapi tidak terlihat oleh mata telanjang maupun alat bantu karena cuaca tak mendukung, dan kadang-kadang bulan sabit berdiam sebentar, tapi bisa diamati.

Al-Khudairi mengindikasikan bahwa bulan sabit ada pada malam hari Kamis, 29 Ramadhan, setelah matahari terbenam di lokasi Observatorium Astronomi Universitas Majmaah, yang terletak di Hawtat Sudair, selama 24 menit. Namun, bisa dilihat tidaknya tergantung pada faktor faktor kecerahan cuaca.

Sedangkan pada hari Jumat — hari pertama Syawal secara matematis — bulan sabit akan berdiam 85 menit setelah matahari terbenam, dan dapat dilihat di kota-kota di Arab Saudi.

BMKG Indonesia. Sementara di Indonesia Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melansir prakiraan hilal pada pengamatan 20 April. Hasilnya, hilal tak terlihat berdasarkan kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), yaitu ketinggian hilal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Dengan demikian, diperkirakan Idul Fitri jatuh pada Sabtu, 22 April 2023.

Saran Muhamadiyah

Sementara itu, sebelum bulan Ramadan, Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal jatuh pada 21 April 2023. Ketetapan ini dapat dihitung, sebagaimana penentuan waktu dan kalender, karena baik matahari, bulan maupun bumi bergerak konstan. Sementara pemerintah akan menetapkan jatuhnya Idulfitri, berdasar pengamatan visual. Karena berpotensi terjadi perbedaan, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir meminta pemerintah bersikap netral.

Penentuan awal Ramadan, Syawal, Dzulhijjah dalam pandangan keagamaan Muhammadiyah, juga yakin dalam pandangan keagamaan pada umumnya, hal itu meupakan wilayah ijtihad. Yang seluruh muslim atau golongan muslim bahkan negara belum bisa bersepakat soal metode. Di saat seperti ini semestinya, negara bersikap netral.

Menurut Haedar, ijtihad bermakna upaya sungguh-sungguh dalam merumuskan hukum keagamaan. Dalam soal-soal terkait ini, pemerintah sebaiknya tidak menerapkan satu hukum, dan menyerahkan kepada masing-masing organisasi keagamaan. Misalnya, terkait Idulfitri, ranah pemerintah adalah menetapkan hari libur.

Karena itu, Muhammadiyah mengusulkan adanya kalender global Islam, agar persoalan semacam ini dapat dihindari di masa depan. Metode Muhammadiyah dalam penentuan kalender disebut sebagai hisab. Para pakar setuju, bahwa metode ini bahkan dapat menghitung hingga 100 tahun ke depan, karena pergerakan bulan, matahari dan bumi dapat dihitung dengan tepat.

Sikap Dewasa Masyarakat

Menghadapi perbedaan penentuan hari raya, masyarakat sudah lebih dewasa. Adanya perbedaan dalam penetapan Idul Fitri sudah menjadi hal yang biasa. Artinya, masyarakat kita secara positif itu juga bertambah dewasa.

Karena itu umat Islam sudah semestinya saling menghormati di antara sesama dalam menyikapi potensi perbedaan penetapan Idul Fitri 2023. Mengingat untuk tahun ini hilal berada dalam ketinggian yang berada dalam wilayah perbedaan pendapat, maka dipastikan akan terjadi perbedaan waktu penetapan hari raya Idul Fitri. Karena itu perlu ada semangat saling menghormati atas terjadinya perbedaan tersebut.

Penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijah merupakan wilayah ijtihadiyah yang membuka kemungkinan terjadinya perbedaan di kalangan fuqaha atau ahli fikih. Secara keilmuan, memang dimungkinkan terjadinya perbedaan. Terjadinya perbedaan pendapat pada masalah yang berada dalam majal al-ikhtilaf (wilayah dimungkinkannya terjadi perbedaan), harus mengedepankan toleransi. Karena itu perlu ada semangat saling menghormati atas terjadinya perbedaan tersebut.

Perbedaan yang didasarkan pada pertimbangan ilmu akan melahirkan kesepahaman, bukan pertentangan dan permusuhan. Karenanya, beragama perlu dengan ilmu sehingga muncul semangat harmoni dan kebersamaan.

Untuk itu, bagi yang berpatokan pada kriteria hisab hakiki wujudul hilal atau Idul Fitri jatuh pada Jumat (21/4/2023), maka hari Jumat melaksanakan Shalat Idul Fitri dan tidak boleh berpuasa. Sementara bagi yang menggunakan kriteria rukyatul hilal ketinggian hilal 3 derajat, maka harus menunggu hingga hasil sidang isbat. Bagi yang meyakini serta mengikuti pandangan bahwa Idul Fitri jatuh hari Sabtu, maka pelaksanaan Shalat Idul Fitri dilaksanakan pada Sabtu dan tidak boleh berpuasa di hari Sabtu tersebut. Sedang di hari Jumat masih wajib berpuasa. (*)

Komentar

Komentar

Check Also

Eks Pegawai KONI Menangkan Sidang, Berapa Hak yang Diterima?

Pekanbaru — Kuasa Hukum Eks Pegawai Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Riau, dari Lembaga …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.